CCIP 2008 pt.2: Cultural Night

Hi, still with me where the core is still…..progressing. Post ini lanjutan dari postingan pt.1 kemaren, yang mana tidak lain serta merta tidak bukan akan menceritakan daripada kejadian demi kejadian selama acara Cultural Night. Cultural Night diadain 7 Juli 2008 di Grand Hall MMU Cyberjaya. Acara ini intinya adalah penampilan kesenian dari beberapa negara. Seinget gue, yang berpartisipasi tuh Malaysia, India, China, Bangladesh, dan Indonesia tentu saja. Berhubung gw bukan panitia, bukan penonton and ngga tau detil acara, so, gw bakal bahas penampilan Indonesia aja.

I’m goin to start with some flashbacks. Well, gw terus terang aja anak baru di sini, cuman 1 sem exchange student. Awalnya gw ikutan gathering anak-anak Indonesia semingguan sebelom ni acara, itu juga diajakin temen sekamar gue. Ternyata acara malem itu ngebahas masalah pemilihan presiden yang baru binti ngebahas juga acara CCIP. What the hell is this CCIP things, that was on my head at that time. Ternyata acara kebudayaan gitu, ada booth, ada tarian juga. Waktu itu, Lily, kayaknya selaku komandan bataliyon, ngasi beberapa pengarahan. Selaen itu dia juga minta kesediaan anak-anak yang mau ikutan jadi performer…hehehe…suasana cukup rame waktu itu. Gw sih pengen banget ikutan, cuman secara anak baru belom kenal ama anak situ, gwnya juga segen lah. Tak dinyana, waktu acara mo beres, gw dipanggil sama bocah trus ditanyain, “Anak STT yang exchange ya? Mau ikutan CCIP ngga?”. Ya sutra lah, kesempatan emas yang datang setiap 10.000 tahun sekali, gw jawab, “Siap!!”. Trus di suruh nyebut nama, gw sebut aja nama gw sama anak-anak yang dua lagi plus anak MBA dari ITS sebatang.

Beberapa waktu abis acara itu, gw dikirimin message buat dateng latihan nari di daerah Cyberia gitu. Tarian bernama Buru (damn, what kind of dirty dance is this?). Akhirnya gw dateng sama anak-anak, telat setengah jam, beralasan kalo di hostel lagi ada pengecekan malaria hahahaha… And guess what, ternyata ni tarian Buru adalah tarian yang ngegambarin suku-suku di daerah Papua sono. Weeewww….siip lah, kita latihan hampir setiap malem, di apartemen, di kelas dan terakhir rehearsal hari Minggu di Grand Hall. Here we are…ready for battle!

Oke, cukup flashbacknya, sekarang kita udah berada di belakang Grand Hall, buat make kostum. Anak-anak tari Buru dibikinin kostum dari tali rafia yang disusun kayak rumbai n dicat cokelat, jadi keliatan kayak rumput. Indonesia perform jam 10an malem, di setlist acara paling terakhir. Kita masuk ke backstage, rasanya deg-degan juga, takut kalo ada gerakan yang salah. Kita udah latian terus, terutama buat gerakan terakhir secara anak-anak susah banget buat sinkronisasi (sset bahasanye!!).

Penampilan Indonesia diawali dengan paduan suara. Mereka ngebawain beberapa lagu daerah yang diaransemen sedemikian rupa. Gw lupa susunannya tapi ada lagu Yamko Rambe Yamko, Manuk Dadali, sama Kicir-Kicir.

Paduan suara

Paduan suara

Abis paduan suara, giliran tarian Saman dari Nangroe Aceh Darussalam, gerakan yang cepet banget binti kekompakan super tinggi tentu saja bikin penonton bertepuk tangan. Dilanjutin sama tarian (gw lupa namanya) dari Batak, Sumatera Utara. Tarian gaya Betawi juga ngga lupa ditampilin sebagai wakil dari DKI Jakarta diiringin sama lagu Kicir-Kicir sebagai backsoundnya. Jawa Barat juga nampilin sebuah tarian khas Sunda gitu, gerakannya beeeegh….dijamin bikin kaum adam ketar-ketir, panas dingin hahahaha…

Abis Jawa Barat, kita geser dikit beberapa derajat Bujur Timur menuju daerah Jawa Tengah. Sebuah tarian yang menggambarkan permainan anak-anak tradisional diiringin sama lagu Cublek-cublek Suweng diperagain sama beberapa rekan wanita kita. Bergeser lagi beberapa ratus kilometer, kita sampai di tarian yang berasal dari pulau dewata, Bali. Tarian Kecak yang dimulai dengan masuknya para penari sambil mengeluarkan bunyi berdesis….sssshhhh….shhshshhhhhhhhsssss…..berputar-putar dan kemudian secara bersamaan semuanya duduk bersila sembari berteriak …CAK!!!! Dari situ suara-suara cak-cak mulai menggema di panggung Grand Hall. Di tengah-tengah tarian, Lily memasuki bagian tengah penari kecak dengan kostum tari yang kumplit dan berkeliling di antara para penari kecak.

Tarian berikutnya datang dari pulau Kalimantan, dengan kipas khas Dayak diikutin sama tarian daerah Sulawesi dan Maluku. Terakhir, tarian berbau suku pedalaman Papua ditampilin. Di sini gw ikutan nari…weewww…padahal ngga ada bakat nari sama sekali. Tapi ya sudahlah…tariannya ngga begitu susah, cuman agak exhausting aja. Secara banyak loncat-loncatnya.

It's me, with the Papua dance...

It's me, with the Papua dance...

Terakhir, semua performers tampil lagi ke panggung dan memberi penghormatan terakhir. Jujur, malem itu bener-bener menyenangkan banget. Bisa tampil kaya gitu, it’s just an honor for me. Mungkin kapan-kapan bisa tampil kaya gitu lagi hahahaha….

All performers!!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s