QGIS could not connect to MSSQL database

Today I was trying to connect QGIS to MSSQL database. I use Create a New MSSQL connection button and fill Connection name, Provider/DSN, Host and login credentials.

However, when I test the connection, it repeatedly saying

Error opening connection: [Microsoft][ODBC Driver Manager] Data source name not found and no default driver specified QODBC3: Unable to connect

After searching on Google, I found that Host should be leaved blank. And, it works.

Problem : Error opening connection: [Microsoft][ODBC Driver Manager] Data source name not found and no default driver specified QODBC3: Unable to connect

Solution : Keep Host blank

png.png

 

Advertisements

Let the world see localhost using ngrok

A situation where we need to expose our localhost to the internet world do exists. Just to mention a few: web development, API development, new product test, or just a for-fun project using new framework. It’s gonna be super fun when we can let people can see our ‘thing” running.

Meet ngrok, a secure tunnel to localhost. This is one of service that I found so useful lately. I don’t have to purchase a domain to share what I am doing to my colleague. One line of ngrok command and the magic happen.

So, that’s all the crappy talk. Let’s just do something.

Suppose we’re having a HTTP web server running on localhost:4000 on a 64 bit Ubuntu server.

Go to https://ngrok.com/download and choose the package based on your platform. In this case we will use Linux 64-bit packages. I am going to use wget as a sample.

wget https://bin.equinox.io/c/4VmDzA7iaHb/ngrok-stable-linux-amd64.zip

Unzip it. You will see one executable file called ngrok.

Run it using below command.

./ngrok http 4000

It means we are using ngrok with HTTP protocol on port 4000. You will see something like this.

png

ngrok already running

Now we can type http://05ae780c.ngrok.io on browser and see the app has been public.

Well, 05ae780c prefix is quite hard to remember, and if we stop running ngrok then rerun it, the prefix also going to be changed. To solve that problem we must upgrade ngrok to paid plan. ngrok shall give a reserved subdomain for paid account.

Conclusion, ngrok is a very helpful service even in a free service. At least we don’t have to worry on how to let the world see our localhost.

 

MSSQL: Create Nonclustered Index

Below script for performing index creation in MSSQL. We can see the use of TEMPDB and MAXDOP setting. From my experiences it’s worth to try because performance and indexing speed is better.

USE [testdb]
GO
CREATE NONCLUSTERED INDEX [index_name]
ON [dbo].[test_table] ([table_key],[other_column])
INCLUDE ([column1],[column2],[column3],[column4])
WITH (SORT_IN_TEMPDB = ON, MAXDOP=5)
GO

Mapinfo Thematic Using Voronoi and Grid

Mapinfo is such a powerful application. On this post I would like to share about how to create a thematic mapping using Voronoi and Grid feature.

I am using cellular network as an example. However, this method work for all geo-spatial data with statistical information such as population or rate.

Just follow the instruction on slideshow below and use the Excel file attached as template and feel free to modify and share 🙂

Happy mapping 🙂

 

Download Voronoi Template – MS Excel

Telkomsel Merah Putih USO : Cerita Sebuah Project

Lip Services

Diawali Project USO Desa Dering yang merupakan Program Pemerintah
untuk penggelaran layanan akses telekomunikasi dan informatika dengan
layanan dasar (basic service) yaitu suara dan teks di lebih dari
25.000 desa pada tahun 2009 dengan masa kontrak hingga 2014. Wilayah
layanan USO Telkomsel meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara
dan Kalimantan. Project yang berada di bawah BP3TI dan Depkominfo
ini pada tahun 2012 dilakukan upgrade dengan BTS kapasitas lebih
besar untuk daerah terpencil, pulau terluar, dan perbatasan RI.

Selain di daratan, Telkomsel juga telah melakukan pembangunan
jaringan telekomunikasi selular diatas kapal, saat ini sinyal
Telkomsel sudah ada 16 kapal PELNI.

Di samping program USO, Telkomsel  juga mengembangkan program
Telkomsel Merah Putih yang merupakan wujud nyata peningkatan
layanan hingga pelosok dan perbatasan negara. TELKOMSEL Merah
Putih ('TMP') adalah Solusi Teknologi Komunikasi persembahan
Telkomsel yang Menembus DaeRAH Pedesaan, IndUstri TerpencIl
(pengeboran lepas pantai, hutan, puncak bukit) dan BaHari (jalur
transportasi laut). Program TMP mencakup seluruh wilayah
Indonesia dari Sabang NAD hingga Merauke PAPUA dan dari Miangas
SULUT hingga Pulau Rote NTT.

Sumber : www.telkomsel.com

Itu adalah informasi yang sempat saya ambil dari website Telkomsel. Di tulisan kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman saya bekerja dalam salah satu project Telkomsel yang memiliki fokus ke daerah terpencil (remote area) ini. Saya bergabung dengan sebuah perusahaan vendor perangkat asal Cina atas tawaran dari seorang teman yang mengetahui mimpi saya untuk menginjak tanah Papua. Tentu saja tawaran tersebut tidak saya sia-siakan. Kebetulan saat itu saya sedang menganggur, walaupun dengan konsekuensi bayaran yang tidak begitu besar dan pekerjaan yang agak jauh melenceng dari keahlian saya. Ya, pekerjaannya bukan di bidang optimasi, melainkan implementasi atau bahasa mudahnya instalasi Base Transceiver Station. Pekerjaan yang cukup melelahkan dan beresiko, karena menuntut fisik dan mental baja. Untungnya, bekerja di ketinggian sudah tidak asing bagi saya.

Technical issue

Saya juga ingin berbagi mengenai teknologi dan metode yang diaplikasikan. Dalam satu jaringan BSS GSM, setidaknya ada beberapa entitas atau elemen jaringan yang harus ada. Seperti gambar di bawah, arsitektur BSS (Base Station Subsystem) mensyaratkan ada BTS dan BSC. Keduanya terhubung melalui sebuah interface bernama Abis. Di Abis inilah letak keunikan dari project BTS untuk daerah terpencil. Untuk jaringan di perkotaan, interface Abis umumnya diimplementasi menggunakan transmisi radio microwave (MW). Transmisi jenis ini mensyaratkan hubungan line of sight antara sisi BTS dan BSC. Jadi gampangnya, antena MW di BTS dan BSC harus bisa saling melihat, tanpa ada penghalang sedikit pun. Transmisi MW mustahil diimplementasi di daerah terpencil yang rata-rata terpisah pulau atau kontur tanah yang berbukit atau harus melewati pegunungan. Belum lagi jarak ratusan kilometer dari kota. Penggunaan transmisi repeater atau multiple hop pun secara cost maupun feasibilitynya tidak akan masuk akal.

Arsitektur sederhana satellite Abis

Arsitektur sederhana satellite Abis

Link satelit yang sudah berkembang sejak dekade 80-an adalah solusinya. Teknologi satelit sudah memungkinkan penggunaan protokol IP. VSAT IP adalah teknologi yang dipilih sebagai solusi transmisi BTS-BSC. Diameter antena yang lebih kecil (kurang dari 3 meter) dan fleksibilitas dalam hal konfigurasi serta efisien dalam hal bandwidth adalah alasannya. Sebuah hub station akan terhubung langsung dengan BSC, sedangkan BTS akan terhubung dengan modem satelit. Semuanya membentuk hubungan dua arah dengan protokol IP. Untuk BTS yang mendukung transmisi native IP, implementasinya sangat mudah. Konsekuensi dari penggunaan VSAT IP ini adalah delay yang cukup besar, antara 500-800 ms, dan jitter. Bandwidth IP disediakan antara 256 kbps sampai dengan 2 Mbps atau lebih tergantung konfigurasi BTS yang dipasang.

Personal issue

Kembali ke cerita project, saya biasanya berangkat ke lapangan bersama seorang teknisi VSAT. Saya sebagai engineer BSS bertanggung jawab atas instalasi BTS dan antena, commissioning, dan integrasi perangkat. Sedangkan partner VSAT bertanggung jawab atas instalasi VSAT dan menjamin koneksi IP BTS-BSC. Mungkin Anda akan heran bagaimana mungkin 2 orang teknisi bisa menyalakan sinyal bahkan dengan konfigurasi yang mendekati BTS di perkotaan. Memasang antena VSAT yang berdiameter 2.4 meter, memasang antena dengan panjang lebih dari 2 meter dan BTS berbobot 18 kg di ketinggian lebih dari 40 meter juga bukan perkara mudah. Hehehe, sebenarnya kami juga tidak sesakti itu. Di lokasi, kami selalu meminta beberapa warga lokal untuk membantu pekerjaan kami, dengan bayaran tentunya. Pekerjaan seperti mengatrol antena ke tower atau pengecoran biasanya dibantu oleh warga. Tapi tentu saja, tidak semudah membayar kuli bangunan karena kami tetap harus mengajari dan memberikan arahan kepada mereka. Hal yang terkadang sulit dan lucu bagi saya adalah saat saya di atas tower dan harus berteriak-teriak mengarahkan orang di bawah.

Terlibat dalam project ini bagi saya sangat menyenangkan. Selain mendapat kesempatan menjelajahi Indonesia, ada satu hal yang selalu membuat saya tersenyum sekaligus terharu setiap kali BTS on air. Bagi sebagian besar kita yang tinggal di perkotaan, sinyal GSM (bahkan 3G) adalah sesuatu yang wajar. Tetapi bagi sebagian kecil saudara kita yang tinggal di daerah terpencil, jarang tersentuh pembangunan, akses telekomunikasi yang datang adalah bagaikan anugerah. Bagi pekerja pertambangan ataupun personil TNI yang berbulan-bulan harus berada di lokasi, keberadaan sinyal GSM adalah obat rindu akan keluarga dan orang-orang tercinta. Tidak jarang kami diperlakukan sebagai tamu bagi mereka. Harapan mereka akan kemampuan berkomunikasi jarak jauh adalah mimpi yang sudah lama ditunggu. Saya selalu mengingat bagaimana senyum dan tawa mereka saat pertama kali berbicara dengan seseorang ribuan kilometer di luar sana menggunakan ponsel. Mereka sudah bisa menggunakan ponselnya untuk menelepon, tidak hanya untuk mendengar lagu atau menonton film. Saya hanya bisa tersenyum ketika mereka bercerita baru saja menelfon saudaranya, pamannya, temannya, atau bahkan tetangga sebelah karena tidak tahu siapa yang harus dihubungi. Saya tertawa ketika mereka kehabisan pulsa karena terlalu asyik berbicara di telfon. Seketika saya terlupa bagaimana sulit dan melelahkan hanya untuk sampai ke lokasi, bagaimana lelahnya naik dan turun tower.

Closing Part

Januari 2013, saya memutuskan untuk resign dari project ini setelah 10 bulan bergabung. Artikel ini memang sengaja saya tulis sebagai salah satu episode yang menyenangkan sekaligus membanggakan dalam hidup saya. Saya ingat beberapa rekan yang sudah lebih dulu meninggalkan project ini. Saya berharap mereka sukses di luar sana. Saya juga teringat rekan-rekan yang masih setia menggeluti project ini, saya berterimakasih kepada mereka karena sudah memberi saya kesempatan mencicipi sesuatu yang menarik. Saya berharap mereka tetap setia memajukan telekomunikasi bagi masyarakat di daerah terpencil.

Di bawah ini adalah beberapa site atau lokasi yang saya kerjakan. Sebuah album kenangan atas perjalanan saya di project Merah Putih.

April 2012 – Harita Nickel, Loji, Pulau Obi – GSM Upgrade – SST 72m
Mei 2012 – Lebak Gedong, Banten – GSM three-sector – SST 52m
Mei 2012 – Majasari, Banten – GSM three-sector – SST 52m
Mei 2012 – Distrik Sugapa, Intan Jaya – GSM three-sector – SST 72m
Juni 2012 – Distrik Tambrauw – GSM three-sector – SST 72m
Juli 2012 – Purwodadi, Malang – GSM three-sector – SST 72m
Sept 2012 – PON Riau, Sei Kijang – GSM omni
Okt 2012 – Enggano Camp, Sorowako, Vale Indonesia – GSM omni – Guymast 36m
Okt 2012 – Balambano PLTA, Sorowako, Vale Indonesia – GSM omni – Guymast 36m
Des 2012 – Distrik Jagebob, Merauke – GSM omni – SST 52m
Des 2012 – Distrik Sota, Merauke – GSM omni – SST 52m

Sinyal GSM Di Perbatasan RI-PNG

22 Des 2012

Jakarta sore itu diguyur hujan deras, kami sudah berada di bandara internasional Soekarno Hatta menunggu keberangkatan pesawat Merpati dengan tujuan Merauke. Saya tidak sendiri. Ada 4 orang teknisi power system, 1 orang teknisi BTS, 1 orang teknisi VSAT IP, dan 2 orang lagi teknisi baru yang akan memasang sekaligus VSAT dan BTS. Saya bertugas sebagai pengawas sekaligus trainer bagi 2 orang terakhir. Pesawat kami berangkat sekitar pukul 21.45 WIB. Pesawat transit selama hampir satu jam di Makassar, sebelum kemudian melanjutkan penerbangan ke Merauke.

23 Des 2012

Kami mendarat di bandara Mopah, Merauke pukul 7.00 WIT, terdapat perbedaan 2 jam dari waktu Jakarta. Kami segera menuju tempat pengambilan bagasi karena barang-barang kami cukup banyak. Tidak banyak perbedaan dengan bandara-bandara di Papua lainnya, ruang pengambilan bagasi di bandara Mopah adalah “bebas merokok”. Yang dilarang adalah mengunyah pinang.

Mendarat di Bandara Mopah

Mendarat di Bandara Mopah

Ternyata kami sudah ditunggu oleh kepala distrik Jagebob dan kepala distrik Ilwayab. Hanya kepala distrik Sota yang tidak datang menjemput kami. Oya, saya lupa menginformasikan, tujuan kami datang adalah untuk memasang BTS GSM di 3 distrik, yaitu Ilwayab, Jagebob dan Sota. Permasalahannya adalah Bupati Merauke meminta agar 3 site tersebut on air atau beroperasi sebelum Natal, dan itu adalah kurang dari 3 hari lagi. Kami sempat berdebat dengan mereka karena tim power system tidak bisa bekerja paralel. Informasi yang kami dapat di Ilwayab sudah ada listrik AC permanen. Jadi tim power tidak perlu pergi ke Ilwayab dan berkomitmen mampu menyediakan listrik dengan cepat. Jadi 2 orang pergi menuju Ilwayab sedangkan sisanya akan mengerjakan Sota dan Jagebob. Tujuh orang akan berangkat bersamaan untuk menyalakan BTS di distrik Jagebob terlebih dahulu, kemudian segera berpindah ke distrik Sota. Rencana yang tampaknya akan membuat kami bekerja semalaman.

Kami langsung menaikkan semua barang bawaan ke bak mobil Mitsubishi Strada milik bapak kadis Jagebob. Jelas bahwa jalan yang akan kami lalui bukan jalan aspal seperti di Jakarta. Sekitar pukul 9.00 kami berangkat menuju Jagebob. Kami melewati distrik Tanah Miring terlebih dahulu. Jalanan tanah yang untungnya sedang kering tidak terlalu menghambat perjalanan. Kecuali memang guncangan yang sedikit mengganggu. Beruntung saya duduk di dalam mobil. Dua orang anggota tim power terpaksa duduk di bak, membuat mereka harus menutup muka dan mulut jika tidak ingin makan debu jalanan.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan persawahan dan rawa khas Merauke. Merauke adalah salah satu daerah tujuan program transmigrasi di era Orde Baru. Tidak heran jika kami lebih banyak bertemu dengan orang-orang Jawa Timur daripada suku asli Papua di sini. Tanah persawahan ini adalah garapan para transmigran. Pak kepala distrik bercerita bagaimana persawahan di Merauke sudah maju. Walaupun hanya mengandalkan pengairan dari sistem tadah hujan, namun Merauke sudah dikenal sebagai lumbung padinya Papua. Salah satu bukti keberhasilan program transmigrasi Orde Baru yang entah kenapa tidak pernah dilanjutkan lagi di era reformasi.

Kami tiba di distrik jagebob sekitar pukul 12 lewat. Kami mengisi perut terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan. Cuaca di Jagebob sangat kering dan panas. Pukul 2.00 kami sudah memulai pekerjaan di tower yang posisinya persis di belakang kantor distrik. Pekerjaan dimulai dengan membongkar peti kemasan perangkat dengan tumbal saya dan satu rekan saya disengat lebah yang ternyata bersarang di dalam kemasan reflector VSAT. Tim power pun bergerak cepat, mereka langsung memasang rak power, menegakkannya, dan langsung mengisinya dengan baterai. Sembari mereka menyelesaikan koneksi baterai ke rak, kami memasang antena VSAT ke dudukannya. Hanya memerlukan waktu kurang dari 2 jam dan kami selesai memasang antena VSAT. Tim power pun sudah selesai dengan koneksi baterainya, artinya kami sudah punya suplai listrik DC -48 volt. Kami melanjutkan dengan memasang modem dan melakukan pointing VSAT. Tim power memasang rangka dudukan solar cell. Waktu menunjukkan pukul 19.00, kami memutuskan untuk mengisi perut karena takut warung tempat kami makan keburu tutup. Kami melanjutkan kembali pekerjaan pukul 20.00. Pointing sudah selesai dilakukan sekitar pukul 21.00. Saya meminta Yudi dan Rahmat membuka kemasan BTS dan mengeluarkannya. Mereka langsung merakit BTS berseri ZXSDR 8908 tersebut. Saya membantu mengarahkan karena mereka masih belum terbiasa. Tidak lama, mereka sudah selesai melakukan commissioning. Kami terkaget karena kami belum sempat melakukan koordinasi dengan engineer di Jakarta, tiba-tiba ponsel saya berdering. Telepon datang dari Ammy. Ternyata pak Ammy sedang stand by menunggu kami selesai commissioning dan langsung melakukan integrasi begitu layar laptopnya menunjukkan kami telah selesai. Distrik Jagebob sudah terhubung ke Jakarta, waktu saat itu sudah menjelang tengah malam. Kami bersegera membereskan perangkat karena harus dipasang di tower keesokan harinya.

 

24 Des 2012

Pagi harinya kami melanjutkan pekerjaan di distrik Jagebob. Karena grounding tower belum dipasang, saya putuskan untuk memasang BTS dan antena di ketinggian 4 meter saja. Memasang di atas terlalu beresiko terkena sambaran petir. Pak distrik pun menyetujui. Saya mengarahkan Rahmat dan Yudi untuk memasang antenna kemudian BTS. Terakhir saya meminta mereka memasang koneksi power, antena dan kabel transmisi. Lengkap dengan waterproofing agar tidak kemasukan air hujan. Setelah itu BTS kembali dinyalakan, sinyal pun muncul kembali. Pak kepala distrik pun mencoba menelepon ke Merauke. Beberapa warga juga datang ke tower untuk mencoba menelepon atau SMS. Mereka terlihat sangat senang akhirnya distriknya bisa berkomunikasi dengan dunia luar.

Sore harinya, tim power selesai memasang semua panel solar cell. Power system mereka sudah berfungsi dengan baik. Kami menyampaikan ke pak kepala distrik bahwa kami harus segera melanjutkan pekerjaan ke distrik Sota. Pekerjaan di Jagebob yang masih kurang akan kami lanjutkan setelah menyelesaikan Sota. Pak distrik mengatakan tidak masalah, dan mencarikan mobil yang bisa mengantar kami ke Sota. Sebuah jeep 4WD Daihatsu Hiline pun datang. Kami segera packing dan menaikkan barang ke atas Hiline.

 

Kebetulan tempat duduk Hiline ada tiga baris, kami semua bisa duduk di dalam. Satu kru tambahan duduk di atas Hiline untuk mengawasi kondisi jalan dan membantu supir jika ada masalah pada mesin atau mobil kandas. Kandas? Ya, ada kemungkinan mobil kandas karena jalan yang akan kami tempuh adalah jalan tanah yang terkadang menjadi kubangan akibat air rawa yang meluap. Perjalanan dimulai sekitar pukul 19.00. Melewati perkampungan lain yang masih berada di kawasan distrik Jagebob. Tidak lama, pemandangan kampung pun berganti menjadi hutan dan rawa yang gelap. Mobil tetap bergerak perlahan melewati jalan tanah yang berlubang atau jembatan yang sedikit amblas. Pak supir pun memberi kabar yang kurang lucu. Beliau berkata bahwa mobil yang kami naiki itu remnya blong. Tapi dia berkata juga sudah biasa dengan mobil ini sambil meyakinkan kami bahwa perjalanan akan aman. Perjalanan terasa monoton karena kegelapan malam. Pemandangan hanya rawa dan hutan. Sesekali ada burung hantu, kelinci hutan, dan tikus hutan yang berlari melewati jalan. Perjalanan melewati desa Toray, kami sempat melapor ke pos penjagaan TNI untuk sekedar permisi. Kemudian kami sampai di Erambu. Di sini juga ada pos TNI, kami melapor kembali. Menurut anggota TNI di Erambu, kami tidak perlu selalu melapor ke pos, cukup membunyikan klakson saja. Beliau juga memberi informasi bahwa situasi di perbatasan aman, yang penting tetap waspada. Kami pun masuk ke jalan poros Merauke-Muting. Kami mengarah ke selatan menuju distrik Sota. Satu jam kemudian kami pun sampai di distrik Sota. Hujan turun rintik-rintik waktu itu. Kami menemukan warung makan. Hanya tersedia bakso. Beruntung masih ada nasi, cukup untuk mengganjal perut yang kelaparan. Warga menginformasikan tower baru yang kami tuju tidak jauh dari situ, hanya 10 menit dengan kendaraan. Kami pun langsung menuju ke tower untuk mengerjakan yang bisa dikerjakan.

Waktu menunjukkan pukul 21.00, kami tiba di kantor distrik. Rak power system yang bobotnya 500 kg lebih ada di depan kantor distrik sedangkan tower berjarak sekitar 50 meter di belakang kantor distrik. Mereka membutuhkan banyak tenaga untuk memindahkan rak super berat itu. Saya pun menawarkan diri untuk mencarikan orang sementara tim power memindahkan peralatan yang mudah. Saya berjalan menuju rumah bapak Simson, pegawai umum kantor distrik sekaligus pemegang kunci. Saat itu malam Natal, saya melihat pohon Natal berkelap-kelip di depan rumah pak Simson. Saya ketuk pintu rumah beliau. Cukup lama sampai beliau keluar dan cukup kaget dengan kedatangan saya yang mengaku sebagai teknisi yang akan memasang sinyal. Beliau awalnya tidak percaya bahwa malam-malam begini kami akan langsung bekerja. Saya sampaikan bahwa bapak Bupati meminta sinyal sudah harus ada saat Natal. Karena menurut saya akan sangat sulit meminta bantuan kepada orang Nasrani, maka saya bertanya apakah memungkinkan untuk meminta bantuan ke Mas-mas Jawa (orang muslim). Pak Simson berkata bisa. Dia kembali masuk untuk mengenakan baju dan kami berdua menaiki sepeda motor Suzuki Crystal (masih ada) menuju perkampungan orang Jawa trans. Pak Simson langsung memanggil beberapa anak muda yang sedang nongkrong. Beruntung lagi mereka bersedia membantu. Kami pun menuju tower sambil menunggu kedatangan tenaga bantuan.

Tidak lama, 6 orang anak muda datang, kami siap memindahkan rak besar itu. Ternyata, rak itu sangat berat. Hanya mengangkat saja sudah membuat 12 orang kehabisan tenaga. Rak berpindah 1 meter, 2 meter, 3 meter, 5 meter, dan belum ada 10 meter kami menyerah. Harus mencari cara lain. Saya tanya apakah ada kayu bulat beberapa batang untuk dijadikan roda, mereka menjawab tidak ada. Sampai salah satu dari mereka menyarankan memakai kayu tipis yang berserakan di sekitar tower. Semua setuju! Kami menaruh 4 batang kayu sejajar dalam 2 jalur. Kami menidurkan rak di atas kayu dan mulai mendorong. Ringan! Rak berpindah sampai ujung kayu bagian depan. Dua batang kayu yang di belakang dipindah ke depan lagi. Kami mendorong lagi. Rak maju lagi. Kayu dipindah lagi. Dan tidak butuh waktu lama rak sudah sampai dan berdiri tegak di fondasi yang sudah disiapkan. Tim power langsung menyiapkan batere dan memasangnya di rak. Rahmat dan Yudi memasang reflektor VSAT di dudukannya. Waktu menunjukkan pukul 02.00, kami harus istirahat dan melanjutkan esok pagi. Kami tidur beralaskan kardus bekas pembungkus perangkat di lantai kantor distrik.

 

25 Des 2012

It’s Chrismast morning already. Warga yang merayakan pergi ke gereja. Kami melanjutkan pekerjaan. Dimulai dengan pointing VSAT sampai mendapat sinyal terima yang cukup. Kemudian kami merakit BTS di bawah dan melakukan commissioning. Saya meminta Yudi untuk menyiapkan tali dan harness. Commissioning selesai dan kami pun berhasil mengintegrasikan BTS dengan BSC di Jakarta. Saya memerintahkan Yudi untuk naik ke atas tower sambil membawa tali dan katrol. Sampai di atas ternyata Yudi mengatakan ada masalah karena rangka tower sempit dan badannya tidak bisa lewat. Permasalahannya adalah saya meminta Yudi untuk naik tidak melewati tangga, melainkan naik lewat vertical tray. Ternyata cara ini bermasalah, ini adalah ide saya. Akhirnya saya putuskan untuk naik ke atas menggunakan safety seadanya yang saya buat dari tali pendek, carabiner, dan runner. Sesampainya di atas saya menyerahkan runner ke Yudi. Runner diikat ke tali. Jadi Yudi bisa memanjat lewat tangga sambil memindahkan runner yang disangkutkan di tray. Satu per satu sampai atas. Cara itu berhasil, saya pun turun kembali. Setelah tali sudah selesai dipasang, kami menaikkan antena, BTS dan kabel. Rahmat ikut naik ke atas untuk membantu mempercepat pekerjaan. Saya di bawah menarik tali dibantu beberapa orang untuk menaikkan peralatan. Pekerjaan baru berakhir saat hari sudah gelap. Pukul 19.00 Rahmat dan Yudi turun dari tower, saya bisa melihat mereka sangat kelelahan saat itu.

26 Des 2012 – 30 Des 2012

Selama lima hari berikutnya kami isi dengan menyelesaikan perapihan instalasi, mengambil dokumentasi foto, melakukan crosspol VSAT, test call, serta drivetest sebagai verifikasi akhir. Kami juga menyempatkan diri berjalan ke perbatasan RI-Papua Nugini. Beruntung ada anggota Kopassus yang sering menemani kami di kantor distrik atau kami yang berkunjung ke pos perbatasan. Yang cukup unik, anggota Kopassus ini berambut panjang. Kami juga bertemu dengan pasukan Yonif 721 Ujungpandang yang sedang bertugas menjaga perbatasan. Mereka orang-orang yang menyenangkan. Mereka juga sangat bersyukur dengan adanya sinyal GSM Telkomsel di Sota ini. Mereka bisa berkomunikasi via telfon dengan istri, anak, keluarga di tempat asal. Sebelumnya mereka menggunakan sinyal bocoran dari PNG di mana untuk sebuah SMS saja mereka harus membayar Rp 7.000.

Mereka pun mengantar kami berjalan-jalan di perbatasan, sampai zona netral, bahkan sampai ke tanah PNG. Kami mungkin akan terus berjalan sampai menemui sungai jika salah satu anggota mereka tidak mengingatkan jumlah mereka kurang dan tidak cukup senjata. Pelanggaran batas negara dapat menyebabkan kami ditangkap oleh tentara PNG. Walaupun menurut anggota TNI ini tentara PNG takut dengan tentara RI.

Kondisi tapal batas Indonesia memang kurang diperhatikan. Sota mungkin cukup beruntung, dengan posisi yang hanya kurang dari 2 jam dari Merauke dan seringnya kunjungan pejabat, menyebabkan kondisi Sota cukup terawat. Bahkan, warga PNG rela berjalan 1 malam untuk berbelanja atau menjual dagangannya di Sota. Mereka cukup membawa paspor dan dilarang membawa senjata. Lalu melapor ke pos imigrasi dengan bahasa Inggris Melanesia yang cukup aneh.

 

Tanggal 30 Desember 2012 kami turun ke kota Merauke menumpang truk tanah. Keesokan harinya kami kembali lagi ke distrik Jagebob untuk memasang BTS dan antena di ketinggian 48 meter. Sekaligus melakukan perapihan, crosspol dan verifikasi drivetest. Pergantian tahun kami rayakan dengan tidur di Jagebob. Pekerjaan kami selesai tanggal 4 Januari 2013. Kami kembali ke Merauke dan pulang bersama ke Jakarta pada 10 Januari 2013. Meninggalkan perbatasan paling timur Indonesia. Di bawah ini beberapa foto kami di Jagebob.

Akses telekomunikasi memang sangat penting di era sekarang ini. Program kementrian Kominfo yang bekerja sama dengan Telkomsel dalam penyediaan layanan telekomunikasi sampai perbatasan dan daerah terpencil memang patut diacungi jempol. Walaupun masih perlu banyak perbaikan dan transparansi, sebab dana USO adalah dari masyarakat juga. Masih banyak dan sangat banyak daerah terpencil dan perbatasan yang masih belum merasakan kemerdekaan telekomunikasi. Mereka hidup jauh dari hingar bingar kota, jauh dari fasilitas kota. Mereka mungkin sangat jarang ada di pikiran kita dan para pemegang kebijakan di Jakarta sana. Tapi mereka adalah warga negara Indonesia, mereka saudara kita. Mereka juga cinta tanah air Indonesia. Adalah kewajiban pemerintah dan kita bersama untuk lebih memperhatikan mereka.