Sinyal GSM Di Perbatasan RI-PNG

22 Des 2012

Jakarta sore itu diguyur hujan deras, kami sudah berada di bandara internasional Soekarno Hatta menunggu keberangkatan pesawat Merpati dengan tujuan Merauke. Saya tidak sendiri. Ada 4 orang teknisi power system, 1 orang teknisi BTS, 1 orang teknisi VSAT IP, dan 2 orang lagi teknisi baru yang akan memasang sekaligus VSAT dan BTS. Saya bertugas sebagai pengawas sekaligus trainer bagi 2 orang terakhir. Pesawat kami berangkat sekitar pukul 21.45 WIB. Pesawat transit selama hampir satu jam di Makassar, sebelum kemudian melanjutkan penerbangan ke Merauke.

23 Des 2012

Kami mendarat di bandara Mopah, Merauke pukul 7.00 WIT, terdapat perbedaan 2 jam dari waktu Jakarta. Kami segera menuju tempat pengambilan bagasi karena barang-barang kami cukup banyak. Tidak banyak perbedaan dengan bandara-bandara di Papua lainnya, ruang pengambilan bagasi di bandara Mopah adalah “bebas merokok”. Yang dilarang adalah mengunyah pinang.

Mendarat di Bandara Mopah

Mendarat di Bandara Mopah

Ternyata kami sudah ditunggu oleh kepala distrik Jagebob dan kepala distrik Ilwayab. Hanya kepala distrik Sota yang tidak datang menjemput kami. Oya, saya lupa menginformasikan, tujuan kami datang adalah untuk memasang BTS GSM di 3 distrik, yaitu Ilwayab, Jagebob dan Sota. Permasalahannya adalah Bupati Merauke meminta agar 3 site tersebut on air atau beroperasi sebelum Natal, dan itu adalah kurang dari 3 hari lagi. Kami sempat berdebat dengan mereka karena tim power system tidak bisa bekerja paralel. Informasi yang kami dapat di Ilwayab sudah ada listrik AC permanen. Jadi tim power tidak perlu pergi ke Ilwayab dan berkomitmen mampu menyediakan listrik dengan cepat. Jadi 2 orang pergi menuju Ilwayab sedangkan sisanya akan mengerjakan Sota dan Jagebob. Tujuh orang akan berangkat bersamaan untuk menyalakan BTS di distrik Jagebob terlebih dahulu, kemudian segera berpindah ke distrik Sota. Rencana yang tampaknya akan membuat kami bekerja semalaman.

Kami langsung menaikkan semua barang bawaan ke bak mobil Mitsubishi Strada milik bapak kadis Jagebob. Jelas bahwa jalan yang akan kami lalui bukan jalan aspal seperti di Jakarta. Sekitar pukul 9.00 kami berangkat menuju Jagebob. Kami melewati distrik Tanah Miring terlebih dahulu. Jalanan tanah yang untungnya sedang kering tidak terlalu menghambat perjalanan. Kecuali memang guncangan yang sedikit mengganggu. Beruntung saya duduk di dalam mobil. Dua orang anggota tim power terpaksa duduk di bak, membuat mereka harus menutup muka dan mulut jika tidak ingin makan debu jalanan.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan persawahan dan rawa khas Merauke. Merauke adalah salah satu daerah tujuan program transmigrasi di era Orde Baru. Tidak heran jika kami lebih banyak bertemu dengan orang-orang Jawa Timur daripada suku asli Papua di sini. Tanah persawahan ini adalah garapan para transmigran. Pak kepala distrik bercerita bagaimana persawahan di Merauke sudah maju. Walaupun hanya mengandalkan pengairan dari sistem tadah hujan, namun Merauke sudah dikenal sebagai lumbung padinya Papua. Salah satu bukti keberhasilan program transmigrasi Orde Baru yang entah kenapa tidak pernah dilanjutkan lagi di era reformasi.

Kami tiba di distrik jagebob sekitar pukul 12 lewat. Kami mengisi perut terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan. Cuaca di Jagebob sangat kering dan panas. Pukul 2.00 kami sudah memulai pekerjaan di tower yang posisinya persis di belakang kantor distrik. Pekerjaan dimulai dengan membongkar peti kemasan perangkat dengan tumbal saya dan satu rekan saya disengat lebah yang ternyata bersarang di dalam kemasan reflector VSAT. Tim power pun bergerak cepat, mereka langsung memasang rak power, menegakkannya, dan langsung mengisinya dengan baterai. Sembari mereka menyelesaikan koneksi baterai ke rak, kami memasang antena VSAT ke dudukannya. Hanya memerlukan waktu kurang dari 2 jam dan kami selesai memasang antena VSAT. Tim power pun sudah selesai dengan koneksi baterainya, artinya kami sudah punya suplai listrik DC -48 volt. Kami melanjutkan dengan memasang modem dan melakukan pointing VSAT. Tim power memasang rangka dudukan solar cell. Waktu menunjukkan pukul 19.00, kami memutuskan untuk mengisi perut karena takut warung tempat kami makan keburu tutup. Kami melanjutkan kembali pekerjaan pukul 20.00. Pointing sudah selesai dilakukan sekitar pukul 21.00. Saya meminta Yudi dan Rahmat membuka kemasan BTS dan mengeluarkannya. Mereka langsung merakit BTS berseri ZXSDR 8908 tersebut. Saya membantu mengarahkan karena mereka masih belum terbiasa. Tidak lama, mereka sudah selesai melakukan commissioning. Kami terkaget karena kami belum sempat melakukan koordinasi dengan engineer di Jakarta, tiba-tiba ponsel saya berdering. Telepon datang dari Ammy. Ternyata pak Ammy sedang stand by menunggu kami selesai commissioning dan langsung melakukan integrasi begitu layar laptopnya menunjukkan kami telah selesai. Distrik Jagebob sudah terhubung ke Jakarta, waktu saat itu sudah menjelang tengah malam. Kami bersegera membereskan perangkat karena harus dipasang di tower keesokan harinya.

 

24 Des 2012

Pagi harinya kami melanjutkan pekerjaan di distrik Jagebob. Karena grounding tower belum dipasang, saya putuskan untuk memasang BTS dan antena di ketinggian 4 meter saja. Memasang di atas terlalu beresiko terkena sambaran petir. Pak distrik pun menyetujui. Saya mengarahkan Rahmat dan Yudi untuk memasang antenna kemudian BTS. Terakhir saya meminta mereka memasang koneksi power, antena dan kabel transmisi. Lengkap dengan waterproofing agar tidak kemasukan air hujan. Setelah itu BTS kembali dinyalakan, sinyal pun muncul kembali. Pak kepala distrik pun mencoba menelepon ke Merauke. Beberapa warga juga datang ke tower untuk mencoba menelepon atau SMS. Mereka terlihat sangat senang akhirnya distriknya bisa berkomunikasi dengan dunia luar.

Sore harinya, tim power selesai memasang semua panel solar cell. Power system mereka sudah berfungsi dengan baik. Kami menyampaikan ke pak kepala distrik bahwa kami harus segera melanjutkan pekerjaan ke distrik Sota. Pekerjaan di Jagebob yang masih kurang akan kami lanjutkan setelah menyelesaikan Sota. Pak distrik mengatakan tidak masalah, dan mencarikan mobil yang bisa mengantar kami ke Sota. Sebuah jeep 4WD Daihatsu Hiline pun datang. Kami segera packing dan menaikkan barang ke atas Hiline.

 

Kebetulan tempat duduk Hiline ada tiga baris, kami semua bisa duduk di dalam. Satu kru tambahan duduk di atas Hiline untuk mengawasi kondisi jalan dan membantu supir jika ada masalah pada mesin atau mobil kandas. Kandas? Ya, ada kemungkinan mobil kandas karena jalan yang akan kami tempuh adalah jalan tanah yang terkadang menjadi kubangan akibat air rawa yang meluap. Perjalanan dimulai sekitar pukul 19.00. Melewati perkampungan lain yang masih berada di kawasan distrik Jagebob. Tidak lama, pemandangan kampung pun berganti menjadi hutan dan rawa yang gelap. Mobil tetap bergerak perlahan melewati jalan tanah yang berlubang atau jembatan yang sedikit amblas. Pak supir pun memberi kabar yang kurang lucu. Beliau berkata bahwa mobil yang kami naiki itu remnya blong. Tapi dia berkata juga sudah biasa dengan mobil ini sambil meyakinkan kami bahwa perjalanan akan aman. Perjalanan terasa monoton karena kegelapan malam. Pemandangan hanya rawa dan hutan. Sesekali ada burung hantu, kelinci hutan, dan tikus hutan yang berlari melewati jalan. Perjalanan melewati desa Toray, kami sempat melapor ke pos penjagaan TNI untuk sekedar permisi. Kemudian kami sampai di Erambu. Di sini juga ada pos TNI, kami melapor kembali. Menurut anggota TNI di Erambu, kami tidak perlu selalu melapor ke pos, cukup membunyikan klakson saja. Beliau juga memberi informasi bahwa situasi di perbatasan aman, yang penting tetap waspada. Kami pun masuk ke jalan poros Merauke-Muting. Kami mengarah ke selatan menuju distrik Sota. Satu jam kemudian kami pun sampai di distrik Sota. Hujan turun rintik-rintik waktu itu. Kami menemukan warung makan. Hanya tersedia bakso. Beruntung masih ada nasi, cukup untuk mengganjal perut yang kelaparan. Warga menginformasikan tower baru yang kami tuju tidak jauh dari situ, hanya 10 menit dengan kendaraan. Kami pun langsung menuju ke tower untuk mengerjakan yang bisa dikerjakan.

Waktu menunjukkan pukul 21.00, kami tiba di kantor distrik. Rak power system yang bobotnya 500 kg lebih ada di depan kantor distrik sedangkan tower berjarak sekitar 50 meter di belakang kantor distrik. Mereka membutuhkan banyak tenaga untuk memindahkan rak super berat itu. Saya pun menawarkan diri untuk mencarikan orang sementara tim power memindahkan peralatan yang mudah. Saya berjalan menuju rumah bapak Simson, pegawai umum kantor distrik sekaligus pemegang kunci. Saat itu malam Natal, saya melihat pohon Natal berkelap-kelip di depan rumah pak Simson. Saya ketuk pintu rumah beliau. Cukup lama sampai beliau keluar dan cukup kaget dengan kedatangan saya yang mengaku sebagai teknisi yang akan memasang sinyal. Beliau awalnya tidak percaya bahwa malam-malam begini kami akan langsung bekerja. Saya sampaikan bahwa bapak Bupati meminta sinyal sudah harus ada saat Natal. Karena menurut saya akan sangat sulit meminta bantuan kepada orang Nasrani, maka saya bertanya apakah memungkinkan untuk meminta bantuan ke Mas-mas Jawa (orang muslim). Pak Simson berkata bisa. Dia kembali masuk untuk mengenakan baju dan kami berdua menaiki sepeda motor Suzuki Crystal (masih ada) menuju perkampungan orang Jawa trans. Pak Simson langsung memanggil beberapa anak muda yang sedang nongkrong. Beruntung lagi mereka bersedia membantu. Kami pun menuju tower sambil menunggu kedatangan tenaga bantuan.

Tidak lama, 6 orang anak muda datang, kami siap memindahkan rak besar itu. Ternyata, rak itu sangat berat. Hanya mengangkat saja sudah membuat 12 orang kehabisan tenaga. Rak berpindah 1 meter, 2 meter, 3 meter, 5 meter, dan belum ada 10 meter kami menyerah. Harus mencari cara lain. Saya tanya apakah ada kayu bulat beberapa batang untuk dijadikan roda, mereka menjawab tidak ada. Sampai salah satu dari mereka menyarankan memakai kayu tipis yang berserakan di sekitar tower. Semua setuju! Kami menaruh 4 batang kayu sejajar dalam 2 jalur. Kami menidurkan rak di atas kayu dan mulai mendorong. Ringan! Rak berpindah sampai ujung kayu bagian depan. Dua batang kayu yang di belakang dipindah ke depan lagi. Kami mendorong lagi. Rak maju lagi. Kayu dipindah lagi. Dan tidak butuh waktu lama rak sudah sampai dan berdiri tegak di fondasi yang sudah disiapkan. Tim power langsung menyiapkan batere dan memasangnya di rak. Rahmat dan Yudi memasang reflektor VSAT di dudukannya. Waktu menunjukkan pukul 02.00, kami harus istirahat dan melanjutkan esok pagi. Kami tidur beralaskan kardus bekas pembungkus perangkat di lantai kantor distrik.

 

25 Des 2012

It’s Chrismast morning already. Warga yang merayakan pergi ke gereja. Kami melanjutkan pekerjaan. Dimulai dengan pointing VSAT sampai mendapat sinyal terima yang cukup. Kemudian kami merakit BTS di bawah dan melakukan commissioning. Saya meminta Yudi untuk menyiapkan tali dan harness. Commissioning selesai dan kami pun berhasil mengintegrasikan BTS dengan BSC di Jakarta. Saya memerintahkan Yudi untuk naik ke atas tower sambil membawa tali dan katrol. Sampai di atas ternyata Yudi mengatakan ada masalah karena rangka tower sempit dan badannya tidak bisa lewat. Permasalahannya adalah saya meminta Yudi untuk naik tidak melewati tangga, melainkan naik lewat vertical tray. Ternyata cara ini bermasalah, ini adalah ide saya. Akhirnya saya putuskan untuk naik ke atas menggunakan safety seadanya yang saya buat dari tali pendek, carabiner, dan runner. Sesampainya di atas saya menyerahkan runner ke Yudi. Runner diikat ke tali. Jadi Yudi bisa memanjat lewat tangga sambil memindahkan runner yang disangkutkan di tray. Satu per satu sampai atas. Cara itu berhasil, saya pun turun kembali. Setelah tali sudah selesai dipasang, kami menaikkan antena, BTS dan kabel. Rahmat ikut naik ke atas untuk membantu mempercepat pekerjaan. Saya di bawah menarik tali dibantu beberapa orang untuk menaikkan peralatan. Pekerjaan baru berakhir saat hari sudah gelap. Pukul 19.00 Rahmat dan Yudi turun dari tower, saya bisa melihat mereka sangat kelelahan saat itu.

26 Des 2012 – 30 Des 2012

Selama lima hari berikutnya kami isi dengan menyelesaikan perapihan instalasi, mengambil dokumentasi foto, melakukan crosspol VSAT, test call, serta drivetest sebagai verifikasi akhir. Kami juga menyempatkan diri berjalan ke perbatasan RI-Papua Nugini. Beruntung ada anggota Kopassus yang sering menemani kami di kantor distrik atau kami yang berkunjung ke pos perbatasan. Yang cukup unik, anggota Kopassus ini berambut panjang. Kami juga bertemu dengan pasukan Yonif 721 Ujungpandang yang sedang bertugas menjaga perbatasan. Mereka orang-orang yang menyenangkan. Mereka juga sangat bersyukur dengan adanya sinyal GSM Telkomsel di Sota ini. Mereka bisa berkomunikasi via telfon dengan istri, anak, keluarga di tempat asal. Sebelumnya mereka menggunakan sinyal bocoran dari PNG di mana untuk sebuah SMS saja mereka harus membayar Rp 7.000.

Mereka pun mengantar kami berjalan-jalan di perbatasan, sampai zona netral, bahkan sampai ke tanah PNG. Kami mungkin akan terus berjalan sampai menemui sungai jika salah satu anggota mereka tidak mengingatkan jumlah mereka kurang dan tidak cukup senjata. Pelanggaran batas negara dapat menyebabkan kami ditangkap oleh tentara PNG. Walaupun menurut anggota TNI ini tentara PNG takut dengan tentara RI.

Kondisi tapal batas Indonesia memang kurang diperhatikan. Sota mungkin cukup beruntung, dengan posisi yang hanya kurang dari 2 jam dari Merauke dan seringnya kunjungan pejabat, menyebabkan kondisi Sota cukup terawat. Bahkan, warga PNG rela berjalan 1 malam untuk berbelanja atau menjual dagangannya di Sota. Mereka cukup membawa paspor dan dilarang membawa senjata. Lalu melapor ke pos imigrasi dengan bahasa Inggris Melanesia yang cukup aneh.

 

Tanggal 30 Desember 2012 kami turun ke kota Merauke menumpang truk tanah. Keesokan harinya kami kembali lagi ke distrik Jagebob untuk memasang BTS dan antena di ketinggian 48 meter. Sekaligus melakukan perapihan, crosspol dan verifikasi drivetest. Pergantian tahun kami rayakan dengan tidur di Jagebob. Pekerjaan kami selesai tanggal 4 Januari 2013. Kami kembali ke Merauke dan pulang bersama ke Jakarta pada 10 Januari 2013. Meninggalkan perbatasan paling timur Indonesia. Di bawah ini beberapa foto kami di Jagebob.

Akses telekomunikasi memang sangat penting di era sekarang ini. Program kementrian Kominfo yang bekerja sama dengan Telkomsel dalam penyediaan layanan telekomunikasi sampai perbatasan dan daerah terpencil memang patut diacungi jempol. Walaupun masih perlu banyak perbaikan dan transparansi, sebab dana USO adalah dari masyarakat juga. Masih banyak dan sangat banyak daerah terpencil dan perbatasan yang masih belum merasakan kemerdekaan telekomunikasi. Mereka hidup jauh dari hingar bingar kota, jauh dari fasilitas kota. Mereka mungkin sangat jarang ada di pikiran kita dan para pemegang kebijakan di Jakarta sana. Tapi mereka adalah warga negara Indonesia, mereka saudara kita. Mereka juga cinta tanah air Indonesia. Adalah kewajiban pemerintah dan kita bersama untuk lebih memperhatikan mereka.

Advertisements

17 comments

  1. Sammy · January 20, 2013

    nice journey bro…keep posting your “adventure-work”….salam satu frekuensi:)

    • Taufiq Ibrahim · January 20, 2013

      hehehe…thanks udah baca n komen om sammy. already left from the project though 😀

  2. wahyudi · January 20, 2013

    hehehe, ane wahyudi yang jumpa ente di sota waktu iktikaf di mesjid

    • Taufiq Ibrahim · January 20, 2013

      hehehe…iye ane inget. udah ane sampein tuh salamnye ke oom agus salim wkwkwk…kudu diajak tuh si om agus 😛

  3. husend · January 20, 2013

    manteb cuk…

    • Taufiq Ibrahim · January 20, 2013

      pasti nge… 😀

  4. muhammad iksanudin · January 22, 2013

    syukur pada yang kuasa akhirnya warga di jagebob bisa interaksi dg dunia luar,sy dulu tinggal di jagebob sp3 kini tinggal di jambi trimakasih pada tim tower dan telkomsel semoga semakin berjaya

    • Taufiq Ibrahim · January 25, 2013

      terimakasih sudah membaca pak iksanudin…semoga skrg lebih mudah berkomunikasi dengan warga jagebob 🙂

  5. KOKO · January 30, 2013

    Terima kasih mas atas BIG support nya selama di project ini..:)..

    • Taufiq Ibrahim · February 1, 2013

      terima kasih atas BIG opportunity nya mengijinkan saya ikut project ini 🙂

    • indraliu · June 30, 2013

      oopsss ,,,, Bapak Koko selaku koordinator di sebuah perusahaan yang menyediakan perangkat BTS 🙂 salam kenal

  6. indraliu · June 30, 2013

    maaf … yudhi dan rahmat dari TDM itu yaaa ??? hahahaa .. kemarin sempat bareng sayaa juga di project Merah Putih

  7. Ghino Fernandho · July 1, 2013

    mantap bro Rahmat dan bro Yudi dkk, perjalanan yang penuh cerita..

  8. taqwa · August 11, 2013

    Terimaksh akhirnya kakak dan teman2 sy dijagebob bisa merasakan komunikasi via tlp sy dulu tggal di distrik ini yg kebetulan rmh sy dekat dgn tempat pmsgn tower ini…skrg sy tggl di bogor hidup jagebob i miss you

  9. budi rahmat · September 25, 2013

    Mantap Le…… sekarang w yang lg nerusin project Merah Putih ini, hehehe

  10. Bayu · July 6, 2014

    Pak Taufig mau pengalaman yang lebih seru ngak ?, saya sedang usulkan ada pemasangan BTS di Muara Sungai Torasi (Perbatasan Laut RI-PNG) mudah2han Bapak yang berangkat. kita naik alutsista TNI AL Sea Rider.

  11. beyond2050 · January 12, 2017

    om ada contact persentnya kah ? buat nanya tentang USOO dan telkomsel merah putih di daerah perbatasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s