Catatan Pendakian Gunung Slamet // 15-17 November 2012

Pendakian ke Slamet di long weekend yang lalu sebenarnya sangat mendadak dan tidak ada persiapan yang matang. Dimulai dengan pembicaraan bersama Kemal tentang kegalauan kami mengisi liburan ini. Rencana ke Surya Kencana terpaksa batal karena salah satu teman kami berhalangan. Ditambah lagi kuota pendakian Gede-Pangrango yang sudah penuh, bahkan via Gunung Putri. Kena tanggung rasa ingin menyentuh gunung sudah mencapai di ubun-ubun, akhirnya saya tawarkan pada Kemal untuk mencoba Slamet. Kami berdua belum pernah ke sana. Kemal pun setuju. Goes to Slamet he said. Perlengkapan dan logistik kami persiapkan. Sebagian dibeli dan dibawa Kemal, sisanya saya. Masalah muncul karena carrier Kemal sudah dijual, jadi cuma ada satu carrier 65 liter milik saya. Kemal membawa daypack. Artinya perlengkapan dan logistik yang bisa dibawa terbatas. Padahal Slamet ini bukan gunung main-main. Tapi niat sudah bulat, tidak ada kata mundur.

15 November 2012

Saya menyusul Kemal ke Bandung yang sudah berangkat duluan. Sesampainya di Bandung jam 04.30 pagi, saya dijemput Kemal menuju ke kost adiknya. Setelah solat Subuh, kami packing perlengkapan dan logistik dan menuju ke pool bus Budiman. Sayang sekali kami sampai di pool jam 07.15, bus menuju Purwokerto sudah berangkat. Kami terlambat 15 menit! Tidak habis akal, kami langsung menuju ke terminal Cicaheum untuk mencari bus apapun yang menuju ke Purwokerto. Sesampainya di Cicaheum terlihat bus Aladdin, pikiran saya mengatakan apa saja asal bukan Aladdin. Akhirnya kami menunggu hingga Aladdin berangkat. Kami memilih menggunakan bus Sari Harum AC Ekonomi. Perjalanan memakan waktu 9 jam lebih. Kami sampai di terminal Purwokerto pukul 17.30. Sepupu saya Mas Doni yang tinggal di Purwokerto menemui kami dan membantu mencarikan minibus jurusan Bobotsari. Kami naik dan turun di pertigaan Serayu pukul 19.00. Perjalanan langsung kami lanjutkan ke basecamp Slamet di desa Bambangan. Sesampainya di basecamp pukul 20.00, kami langsung mendaftar dan makan malam di sana. Setelah berdiskusi dengan Kemal, akhirnya kami putuskan untuk memulai pendakian malam itu juga.

Basecamp – Pos Lapangan

Kami memulai pendakian jam 21.00 menuju ke Pos Lapangan. Trek dimulai dengan tanjakan aspal yang membuat saya megap-megap. Setelah memasuki gerbang pendakian, trek berganti jalanan tanah melewati kawasan ladang penduduk. Jalanan cukup menanjak membuat saya menyerah membawa carrier fullpack berisi 4 botol air mineral, logistik, nesting, 2 sleeping bag, dan perlengkapan pribadi. Saya berbaring di pematang ladang, terengah-engah. Kemal menawarkan untuk menukar bawaan. Perjalanan dilanjutkan, saya membawa daypack dan Kemal menggotong kulkas 2 pintu milik saya. Damn!!! Ternyata daypacknya sangat ringan :D. Kami berjalan terseok-seok (dibaca: ngesot) dan sampai di Pos Lapangan pukul  23.00.

Pos Lapangan – Pos I

Kami melanjutkan perjalanan ke Pos I. Posisi carrier masih di punggung Kemal. Trek masih jalan menanjak dan mulai masuk ke kawasan hutan pinus. Kami sempat bertemu dengan beberapa pendaki lain. Pukul 00.30 kami sampai di Pos I, di sana terdapat shelter dan ada 2 buah tenda di dalamnya. Kami membuat beberapa gelas kopi dan susu panas. Untuk kami berdua dan tiga pendaki asal Jakarta yang menyusul kami di Pos I. Cuaca cukup cerah, kami bisa melihat lampu-lampu rumah di pedesaan di bawah kami.

Pos I – Pos II

Kami memutuskan untuk tidak membuka tenda di Pos I karena masih ada waktu. Perjalanan kami lanjutkan ke Pos II. Trek berupa hutan lebat dan menanjak. Saya berjalan di depan. Entah kenapa di perjalanan Pos I – Pos  II ini saya merasa sangat parno. Saya mendengar suara-suara aneh. Saya meyakinkan itu adalah suara burung malam. Yang sangat mengganggu adalah setiap kali saya mengarahkan lampu senter ke atas untuk memeriksa jalur tanjakan, seperti ada sekelebat bayangan yang bergerak. Saya berkali-kali melafalkan takbir. Semakin lama berjalan bayangan itu selalu muncul. Saya selalu melihat ke belakang untuk memastikan Kemal masih ada di belakang saya. Hampir 30 menit berjalan, saya mendengar suara seperti pasak tenda yang dipukul ke tanah. Kemal juga mendengarnya. Kami pikir mungkin Pos II sudah dekat dan mungkin ada yang sedang mendirikan tenda di sana. Tidak lama kemudian kami sampai di Pos II, waktu menunjukkan pukul 01.37 dini hari. Dan tidak ada seorang pun di sana! Kami beristirahat di sini dan berdebat apakah akan melanjutkan perjalanan atau tidak. Dengan pertimbangan kami masih butuh istirahat dan saya sudah terlalu takut untuk lanjut, kami akhirnya membuka tenda di Pos II. Entah apa yang saya lihat dan dengar waktu itu. Rombongan pendaki yang kami juga tiba tidak lama dan ikut membuka tenda di sini.

16 November 2012
Pos II – Pos III

Sebelum meninggalkan Pos II

Keesokan paginya, pukul 10.15, kami melanjutkan perjalanan. Rombongan 3 orang dari Jakarta mengatakan akan menyusul. Kali ini giliran saya yang menggendong carrier berat ini. Trek masih berupa hutan lebat dengan tanjakan yang cukup menguras batin..eh…tenaga. Kami sampai di Pos III pukul 11.35. Di sini kami bertemu dengan empat pendaki dari Unnes Semarang. Kami tidak berencana untuk makan, tetapi karena ditawari akhirnya kami ikut makan siang dengan mereka. Dengan logistik terbatas, rejeki seperti ini tidak boleh kami lewatkan 😀

Pos III – Pos IV

Pukul 11.52 kami melanjutkan perjalanan ke Pos IV. Trek masih sama, hutan lebat dan makin banyak tanjakan dengkul ketemu jidat. Untungnya jarak Pos III ke Pos IV tidak jauh. Pukul 12.41 kami tiba di Pos IV. Terlihat rombongan pendaki yang sedang membereskan tenda mereka. Pos IV ini bernama Samarantu. Menurut penduduk lokal arti Samarantu adalah Samar-samar Hantu. Tempat ini konon terkenal sangat angker. Tetapi kelihatannya rombongan yang menginap ini wajahnya sehat-sehat saja.

Pos IV Samarantu

Pos IV – Pos V

Perjalanan kami lanjutkan ke Pos V pukul 12.41 siang, cuaca sudah mulai kurang bersahabat. Sepertinya akan hujan waktu itu. Saya tetap membawa carrier walaupun Kemal memaksa untuk bergantian. Sebab malam sebelumnya dia sudah bersusah payah membawa, jadi ini saatnya saya membantu. Walaupun saya harus berjalan selangkah demi selangkah karena trek yang makin menanjak. Di tengah kelelahan itu saya mendengar Kemal berteriak Pos V sudah terlihat. Dengan tertatih-tatih saya paksakan untuk terus menanjak. Akhirnya shelter Pos V ada di depan saya. Kami sampai tepat pukul 13.10. Kami menaruh carrier dan daypack di shelter dan bersegera mengambil air di sungai di bawah Pos V. Belum selesai mengambil air hujan mulai turun. Kami buru-buru dan berlari ke shelter. Kehujanan dan basah.

Pos V – Pos VI – Pos VII

Hujan sepertinya belum mau berhenti. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sampai Pos VII karena pendaki yang datang semakin banyak. Kami takut tidak kebagian lapak tenda di Pos VII. Jam menunjuk angka 14.40 kami berjalan kembali dalam bungkusan ponco. Jalanan tanah dialiri air kami lalui. Banyak pohon dan ranting yang berserakan menambah sulitnya jalan yang menanjak. Napas saya tersengal-sengal walau carrier sekarang dibawa Kemal. Kami sampai di Pos VI pukul 15.11 dan beristirahat sebentar. Semenit kemudian kami berjalan kembali. Pohon-pohon tinggi mulai tidak tampak. Hanya beberapa tumbuhan pendek. Sampai di Pos VII pukul 15.43. Shelter Pos VII masih memiliki tempat kosong, cukup untuk 2 tenda lagi. Sayangnya kondisi di dalam shelter sangat kotor dan jorok. Banyak sampah dan sebagian basah. Kami membersihkan sampah di dalam dan menyapu sebagian tanah bersih untuk menutupi tanah yang basah. Kemudian kami mendirikan tenda. Kemal kemudian mulai memasak. Suhu menurun drastis. Saya merasa kondisi badan saya menurun juga. Saya hanya meringkuk kedinginan di dalam tenda sementara Kemal memasak air dan makanan. Sisa malam kami habiskan untuk beristirahat di dalam tenda karena kami berencana melakukan summit sekitar jam 2 atau jam 3 pagi.

17 November 2012
Summit Attack, Puncak Gunung Slamet 3428 mdpl

Kemal membangunkan saya jam 1 pagi, saya  masih merasa lelah, saya tidur kembali. Saya terbangun lagi sekitar pukul 02.30. Ternyata Kemal sudah mulai memasak. Saya merasa tidak enak dan segera bangun membantu menggoreng nugget dan sosis. Nasi plus nugget dan sosis itu adalah jatah makanan terakhir kami. Hanya tersisa beberapa roti dan biskuit. Kami paksakan untuk mengisi tenaga sebelum summit attack. Di luar sudah terdengar ramai suara pendaki yang akan berangkat summit dari Pos VII serta yang berangkat dari Pos V.

Pukul 03.30 saya dan Kemal mulai summit bersama-sama para pendaki lain. Menurut informasi dibutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai puncak Slamet dari Pos VII. Kemal membawa daypack-nya berisi air dan makanan ringan. Saya hanya bawa kamera dan senter ponsel Samsung. Berjalan 30 menit melewati tanjakan 45 derajat akhirnya kami sampai di batas vegetasi. Sudah tidak ada lagi tanaman yang tumbuh. Hanya pasir dan batu. Trek menjadi semakin sulit. Tanjakan 60 derajat ini agak menyulitkan saya. Beberapa kali harus terpeleset dan merayap karena terlalu curam. Saya merasa sedikit takut ketika melihat ke belakang. Takut jika saya terpeleset kemudian meluncur ke bawah. Kemal terus menyemangati saya. Sedikit demi sedikit kami mendaki.

Kemal berkata suhu dan anginnya sangat dingin. Saya bahkan tidak bisa merasakan dingin. Saya hanya mencoba mendaki dan tidak terpeleset. Sampai akhirnya saya mendengar Kemal berteriak bahwa puncak sudah dekat. Ya, saya bisa melihatnya. Saya berlari menuju tempat itu. Akhirnya saya sampai di puncak. Rasanya saya ingin menangis. Saya yang lemah ini bisa sampai di sini. Kami bersalaman di atas. Saya hampir saja menangis, tapi untungnya hanya mata saya saja yang berkaca-kaca. Alhamdulillah ya Allah, kami sampai di sini. Tepat saat sinar matahari terbit mulai terlihat menembus kabut tebal. Indah sekali memandang terbitnya matahari di ketinggian ini. Purbalingga dan Purwokerto terlihat begitu kecil. Siluet gunung Sindoro dan Sumbing terlihat di kejauhan sebelah timur.

Duet, matahari

Kami menyempatkan solat Subuh dan mengambil beberapa foto. Kemudian kami berjalan di sekitar puncak. Kami juga menyempatkan diri berjalan ke arah kawah Slamet, untuk melihat tugu triangulasi dan batas kabupaten. Sebelumnya di Pos VII saya melihat beberapa pendaki membawa kertas yang bertuliskan nama orang tersayang yang akan mereka abadikan saat di puncak. Saya menyesal kenapa saya tidak membawa apa-apa. Yang Kemal lakukan adalah menyusun batu menjadi sebuah nama seseorang. Yang saya lakukan, meminjam pulpen Kemal dan menuliskan namanya di telapak kiri tangan saya.

Love you dear

Tidak lama, kami meninggalkan puncak untuk kembali ke Pos VII. Membereskan tenda dan semua perlengkapan. Kami merasa kelaparan tapi logistik kami sudah habis. Beruntung rombongan pendaki Unnes menawarkan makanannya. Dengan malu-malu kami menyantap mi goreng masakan mereka. Setelah itu kami langsung turun dari Pos VII. Kami mulai turun pada pukul 10.00 dan sampai di basecamp Bambangan pukul 14.00. Dari sana kami harus turun lagi ke pertigaan Serayu untuk mencari bus arah Purwokerto. Saat itu tidak ada mobil sewaan untuk turun. Tapi sekali lagi kami memang sangat beruntung. Tuhan memberikan kami kemudahan. Salah seorang pendaki dari Unnes bernama Jefri menawarkan untuk mengantarkan kami dengan mobilnya sampai pertigaan Serayu. Thanks God!

Sesampainya di Serayu, kami mengucapkan terimakasih dan berpamitan dengan pendaki-pendaki Unnes yang sangat baik hati ini. Saya dan Kemal menuju ke terminal Purwokerto di mana kami berpisah, Kemal langsung menuju Bandung sedangkan saya mengunjungi saudara saya di Purwokerto.

Terima kasih saya ucapkan kepada Kemal yang sudah rela menjadi kawan mendaki dan teman-teman Unnes yang telah menolong kami dari kelaparan serta mengantar kami.

Salam Lestari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s