Dering Telepon Di Intan Jaya

Jumat, 11 Mei 2012

Tidak terasa hari itu berjalan begitu cepat. Saya menyempatkan diri, walaupun hanya 2 jam untuk makan malam dengan pacar saya. Malam itu, saya harus berangkat ke Nabire untuk instalasi BTS di kabupaten pemekaran bernama Intan Jaya. Pukul 11 malam saya meluncur menuju Soekarno Hatta, mengurus overload bagasi, check in dan yang saya tahu, sekitar jam satu lewat pesawat Batavia Air yang saya tumpangi sudah melesat dalam kegelapan malam.

Sabtu, 12 Mei 2012

Penerbangan yang cukup lama itu harus beristirahat sejenak di Ambon. Di sana saya bertemu dengan teknisi instalasi VSAT bernama Willem, dari Konsorsium Teleglobal Aprotech (KTA). Di luar dugaan, orangnya cukup berisi (maksudnya gendut Lem hehehe). Kami minum kopi sambil mengasapi paru-paru sembari menunggu pesawat siap. Tidak lama panggilan pun terdengar, ATR72-500 telah siap untuk mengantar kami menuju Nabire. Perjalanan Ambon-Nabire tidak terlalu memakan waktu, dengan satu kali transit di Kaimana. Kami sampai di Nabire sudah agak siang. Bapak Aser Kudiai sudah menjemput kami di pintu keluar bandara. Setelah mengobrol sejenak, beliau mengantar kami ke gudang untuk memeriksa kelengkapan material instalasi. Pak Aser ini adalah kepala bagian perekonomian dan pengembangan kabupaten Intan Jaya. Setelah diperiksa, ternyata Willem tidak menemukan antena VSATnya. Akhirnya kami berputar-putar Nabire mencari collie yang hilang itu. Setelah menanyakan ke kantor Pelni, kami diarahkan ke gudang Pelni yang terletak di pelabuhan Nabire. Antena yang dicari itu ternyata tersangkut di sana karena pengirimannya terpisah. Karena material sudah dirasa lengkap, pak Aser mengajak kami untuk makan siang dan mengantar kami ke penginapan, Hotel Anugerah.

Mendarat di bandara Nabire

Mendarat di bandara Nabire

Senin, 14 Mei 2012

Jam sepertinya baru menunjukkan pukul 5 pagi. Kami dikagetkan dengan suara pak Aser, “Halo….halo….maaass!!!”. Beliau membangunkan kami dengan cara yang tidak jauh beda saat Satpol PP saat penggrebekan hahahaha…. Mau tidak mau kami terbangun karena kaget. Kami angkat carrier dan langsung menuju bandara. Saat itu cuaca hujan lumayan deras. Akibatnya, penerbangan ke Sugapa yang dijadwalkan jam 6 pagi, molor menjadi jam 7, menunggu hujan reda. Jam 7 lewat sedikit pesawat bermesin dua milik Aviastar ini mengudara, menuju ke distrik Sugapa, ibukota dari kabupaten Intan Jaya. Perjalanan dari Nabire menuju Intan Jaya secara umum memakan waktu sekitar 45 menit. Pemandangan pegunungan curam dan indah disuguhkan selama penerbangan. Bahkan, banyak gunung dan tebing yang tingginya melebihi ketinggian terbang pesawat. Kami terbang melewati daerah Paniai dan Enarotali. Terlihat indah dan luasnya danau Paniai dari udara. Tidak lama setelah melewati danau Paniai, distrik Sugapa mulai terlihat. Namun pesawat masih harus berputar-putar di udara beberapa kali. Menurut pak Aser, pilot sedang mencari celah untuk mendarat. Cukup membuat jantung berdebar-debar. Setelah 20 menit berputar-putar, akhirnya pesawat mulai menukik. Terlihat Sugapa semakin mendekat, perkampungan mulai terlihat. Tower yang akan kami gunakan juga terlihat. Dan….we touched the airstrip. Pesawat berguncang cukup kuat saat mendarat di landasan Sugapa yang terbuat dari campuran tanah kasar dan aspal. Landasannya dibatasi tebing di sisi luar dan ujung landasan. Kami turun dari pesawat dan terlihat ramai penduduk dan petugas yang menjemput. Mereka dengan sigap menurunkan material instalasi dan langsung memindahkan barang-barang berat itu ke atas mobil 4WD yang sudah disiapkan untuk membawa material ke tower. Kami langsung menuju tower untuk mulai membongkar barang. Cuaca sudah mulai hujan rintik-rintik. Saya melihat-lihat tower berketinggian 72 meter, masih mulus dengan cat merah-putih yang masih terlihat baru. Berbeda dengan kebanyakan tower di Jawa sana yang ditumbuhi rumput, tower di Sugapa ini, bagian tanahnya malah ditumbuhi tunas-tunas pinus dan cemara. Itu cukup sebagai tanda bahwa tower ini terpasang di ketinggian lebih dari 1500 meter, tepatnya 2170 meter di atas permukaan laut. Saya tidak mau kalah dengan Willem yang sudah curi start dengan membuka collie material. Saya buka beberapa collie penting, dan mulai merakit bagian kecil dan menggulung kabel optik. Saat asyik menggulung kabel optik, ternyata Bupati Intan Jaya, bapak David Setiawan datang mengunjungi kami. Kami mengobrol sejenak dengan beliau yang notabene adalah careteker atau pejabat sementara bupati. Beliau mengungkapkan sudah menunggu sangat lama akan kedatangan kami, serta bagaimana kerinduan masyarakat Intan Jaya akan kemerdekaan dari isolasi telekomunikasi. Kemudian beliau pamit dan mempersilakan kami untuk melanjutkan pekerjaan.

Tidak lama setelah pak Bupati pulang, hujan mulai turun. Kami menutup material dengan terpal. Hari itu saya hanya selesai sedikit sekali. Sedangkan Willem sudah menyelesaikan fondasi untuk antena VSAT. Kami meninggalkan tower dan diarahkan menuju mess pegawai pemda untuk beristirahat di sana. Cuaca semakin dingin.

Mendarat di Sugapa

Mendarat di Sugapa

Memuat material instalasi

Memuat material instalasi

Memulai instalasi

Memulai instalasi

Selasa, 15 Mei 2012

Pagi di Intan Jaya sangat dingin dan berkabut tebal. Kami harus menunggu sampai sekitar jam 9 untuk bisa mulai bekerja. Setelah sarapan dan menyeruput teh panas, saya dan Willem menuju ke tower untuk melanjutkan pekerjaan. Berjalan kaki ke tower saja sudah menguras banyak tenaga karena jalannya sangat menanjak, kami merasa kehabisan nafas. Bahasa lokal disana adalah hosa untuk kecapean dan tersengal-sengal 😛

Kabut pagi menutupi tower

Kabut pagi menutupi tower

Target saya hari itu adalah memasang katrol di puncak tower, mengambil foto panorama dan menurunkan mounting antena yang dipasang terlalu tinggi, dari 72 meter ke sekitar 55 meter. Willem bersikeras untuk membantu saya memanjat sampai atas. Awalnya saya agak ragu, karena dengan badan sebesar itu, tentu membutuhkan sangat banyak tenaga untuk memanjat ketinggian 72 meter. Willem naik duluan dengan membawa katrol dan tali, tapi sampai ketinggian sekitar 30 meter talinya terlepas dari harness dan jatuh ke tanah. Akhirnya saya mengatakan biar saya saja yang bawa katrol dan tali ke atas, Willem naik saja pelan-pelan nanti menyusul. Saya juga merasa cukup tersengal-sengal hingga harus berhenti di tiap bordess. Sampai di puncak saya memasang katrol dan mulai menurunkan tali. Kemudian saya mengambil foto panorama. Willem akhirnya sampai juga di top tower. Kami mulai untuk memasang ikatan di mounting agar bisa dilepas dan diturunkan. Namun, belum selesai memasang tali, hujan pun turun. Padahal baru jam 1 siang. Mau tidak mau kami harus menghentikan pekerjaan di atas.

Panorama 360 deg Intan Jaya

Panorama 360 deg Intan Jaya

Kami turun ke bawah dan akhirnya hanya memasang antena VSAT di atas fondasi yang telah mengering. Kami langsung pulang karena hujan semakin deras.

Keesokan harinya, saya memutuskan untuk naik sendirian dan dibantu Willem untuk koordinasi di bawah. Saya naik ke atas, mengikat mounting dan bersiap melepasnya. Pekerjaan ini beresiko karena mounting ini cukup berat. Jika penarik tali di bawah tidak cukup kuat menahan, mounting bukan tidak mungkin akan meluncur ke tanah. Saya beruntung, ternyata ada teknisi lokal yang ikut naik ke atas, lengkap dengan harness dan radio HT. Namanya Beno, orang inilah yang berjasa membantu saya di atas tower sampai selesai. Siang itu adalah pertama kalinya bagi Beno memanjat tower sampai ketinggian 72 meter. Tapi mentalnya bisa mengalahkan segala ketakutan dalam pikirannya. Satu hal yang membuat saya kagum dengan orang ini. Kami mencoba membongkar baut mounting dan mendorongnya keluar. Sempat kaget karena mounting sedikit meluncur ke bawah akibat di bawah kurang kuat menahan tali katrol. Akibatnya tangan Beno lecet dan besi mounting membengkok sedikit. Perlahan, sambil saya koordinasi lewat radio, kami menurunkan mounting sampai ketinggian 54 meter. Saat posisinya sudah pas, kami pasang kembali di kaki tower. Angin bertiup sangat kencang menyulitkan pekerjaan ini. Kami akhirnya terpaksa turun karena hujan sudah mulai mendekat dari arah lembah. Di bawah Willem ternyata sudah selesai memasang BUC VSAT.

Kendala cuaca sangat menghambat pekerjaan di atas. Kami efektif bekerja hanya dari sekitar jam 9 atau 10 sampai jam 2 siang. Selama berhari-hari kami mengerjakan dengan sangat lambat. Mulai dari menurunkan mounting, kemudian memasang antena sektoral. Kemudian setelah semua antena naik, kami memasang RRU yang beratnya 20 kilogram. Sempat kebingungan karena biasanya RRU dipasang di mounting antena. Sayangnya, kali ini mounting tersebut terlalu dekat dengan kaki tower. Kami coba memasang di kaki tower. Syukurlah berhasil. Tidak lupa kami memasang arrester sebagai pelindung petir.

Antena GSM 900/1800 Dualband

Remote Radio Unit R8860

Antena VSAT 2.4m

Baseband Unit dan Modem Satelit

Tower SST 72m distrik Sugappa, Kab. Intan Jaya

Melihat tanah dari 72 meter

Melihat tanah dari 72 meter

Setelah berhari-hari memasang perangkat di atas, akhirnya pada tanggal 23 Mei kabel optik sudah di tanah. Saya langsung turun ke bawah dan memasang kabel optik ke BTS. Warga berkerumun ramai di sekitar tower. Setelah semua terkoneksi, kami coba menyalakan BTS. Commissioning langsung saya kerjakan, dilanjutkan dengan integrasi dengan BSC di Jakarta dibantu oleh pak Ammy dan pak Koko. Integrasi berlangsung cukup lama. Sekitar jam 7 malam waktu lokal akhirnya panggilan ke Jakarta bisa dilakukan. Alhamdulillah, Intan Jaya akhirnya on air!!!! Warga beramai-ramai melakukan panggilan. Kios-kios yang sudah menyiapkan pulsa dan kartu perdana beserta ponsel bahkan sampai kehabisan stok. Jaringan langsung blocking dan modem sempat hang. Euforia warga sangat terasa kuat. Intan Jaya has been connected.

Warga lokal Intan Jaya menunggu datangnya sinyal

Warga lokal Intan Jaya menunggu datangnya sinyal

Kamis, 24 Mei 2012

Saya dan Beno naik ke atas lagi untuk merapikan kabel-kabel dan mengambil foto dokumentasi. Sementara Willem masih mengerjakan VSAT karena masih belum stabil dan ada rencana ganti satelit. Setelah lama mencari arah ke satelit yang baru, Willem memutuskan tidak mungkin menggunakan satelit yang lain karena transmisi tidak bisa dikirim. Akhirnya diputuskan untuk kembali ke satelit yang lama, yaitu Telkom 2. Tinggal melakukan crosspol.

Malam harinya, pak Luther, pak Didimus, dan pak Paulus, beserta warga sekitar menyelenggarakan acara Bakar Batu untuk pemberkatan tower dan BTS. Sebelumnya, saat matahari sudah mulai tenggelam, seekor babi dibawa masuk ke dalam area tower. Babi tersebut dibiarkan berputar-putar di dalam tower sebelum akhirnya dipanah. Darah yang berceceran dari si babi menetes di tanah sembari babi berjalan sempoyongan di dalam tower. Darah yang tumpah itu ditujukan sebagai persembahan ke tuan tanah dan leluhur yang ada di sekitar tower. Setelah tiga kali panah, babi belum juga tumbang. Seorang warga mengambil kayu besar dan memukulkannya ke kepala babi sampai tumbang.

Babi yang sudah tersungkur dibawa ke tanah sebelah tower yang sudah disiapkan sebelumnya. Babi dibakar terlebih dahulu untuk membersihkan kulit luarnya. Setelah setengah matang, babi dipotong dengan cara yang sangat khusus oleh seorang kepala suku. Darah yang keluar dibersihkan dan diusap dengan daun-daun pakis. Daun-daun berlumuran darah ini nantinya akan dibakar bersama daging dan ubi. Ritual ini bernama bakar batu karena yang digunakan untuk memanggang babi, ubi, dan sayur nanti bukan api. Tetapi menggunakan batu-batu panas yang sudahh dibakar di tempat terpisah. Mereka membakar banyak batu-batu kecil sampai membara. Kemudian batu dan makanan dimasukkan ke dalam lubang yang sudah digali. Batu membara dimasukkan terlebih dahulu, kemudian dimasukkan ubi. Kemudian ditutup dengan sayur pakis, dan ditambahkan batu membara lagi. Daging yang sudah dipotong-potong diposisikan di atas, bersama dengan beberapa batu panas dan sayuran pakis. Semua itu dibiarkan bersama batu panas sampai matang.

Bakar batu pemberkatan tower

Bakar batu pemberkatan tower

Jumat, 25 Mei 2012

Beno dan saya menyempatkan diri sambil menunggu crosspol, memasang bendera Merah Putih di puncak tower. Crosspol dengan TELKOM dijadwalkan dilakukan siang ini. Namun karena TELKOM cukup sibuk, kami harus menunggu sangat lama, sampai jam 4 sore baru bisa dilakukan. Skenarionya cukup unik. Biasanya teknisi VSAT menggunakan ponsel atau telepon satelit untuk berkoordinasi dengan TELKOM sembari mengubah arah antena sampai didapat hasil yang maksimal. Namun karena di Intan Jaya telepon satelit sangat sulit, akhirnya diputuskan: Willem di site melakukan crosspol antena VSAT dan saya di kantor Bupati. Saya berkoordinasi dengan orang TELKOM menggunakan Yahoo Messenger, kemudian semua perintah dari TELKOM saya teruskan ke Willem dengan radio. Cukup aneh memang hahaha, kira-kira seperti ini:

TELKOM – Taufiq via YM : azimuth putar terus…
Taufiq – Willem via radio : azimuth terus…dicopy…kkkkrrrk
Willem – Taufiq via radio : azimuth sudah…ganti…kkkrrrkk
Taufiq – TELKOM via YM : azimuth OK
TELKOM – Taufiq via YM : balik arah…
Taufiq – Willem via radio : balik arah sedikit…kkkkrrkkk
Willem – Taufiq via radio : balik arah sudah…bagaimana…kkkkeerrrk…kenapa lama? Kkkrrrkkk
Taufiq – TELKOM via YM : balik arah OK..

Dan seterusnya daaaan seterusnya….cukup melelahkan dan mengesalkan karena kami harus menunggu balasan YM dari Jakarta. Sampai jam 7 malam, crosspol masih belum selesai. Pak Bupati bahkan sampai menegur saya, kalau bisa tidak perlu dilakukan crosspol, karena keesokan paginya, tanggal 26 Mei akan diadakan acara ulang tahun ke-3 Intan Jaya dan peresmian perkantoran baru di mana Gubernur Papua Barat dan banyak pejabat akan datang. Keadaannya cukup genting. Sampai akhirnya Willem memutuskan untuk membatalkan crosspol dan tetap pada arah yang sama karena sudah maksimal. Saat Willem datang dari tower saya lihat dia menggigil kedinginan karena di luar hujan deras dan suhu sangat dingin. Two thumbs up for you bro!!!

Willem dan pak Jhon berjuang crosspol VSAT di tengah hujan deras dan suhu beku Sugapa

Willem dan pak Jhon berjuang crosspol VSAT di tengah hujan deras dan suhu beku Sugapa

Sabtu, 26 Mei 2012

Jika pada pemberkatan tower bakar batu dilakukan dengan satu ekor babi, maka pada acara ulang tahun dan peresmian perkantoran ini akan dilakukan bakar batu yang melibatkan 80 ekor babi. Luar biasa memang, terlihat di lapangan depan kantor distrik sedari pagi sudah banyak masyarakat baik lokal maupun yang turun dari gunung berkumpul di sini. Lubang-lubang galian dan tempat pembakaran sangat banyak terlihat. Begitu juga babi-babi yang sudah dipersiapkan, sangat banyak. Ini menunjukkan besarnya acara yang diselenggarakan hari ini.

Saya mengambil foto-foto dengan Ricoh kesayangan saya, sedangkan Willem bertugas mengambil video ritual bakar batu dari awal sampai selesai. Saat mengambil gambar, saya melihat pak Luther. Saya panggil beliau, ternyata beliau sekeluarga juga membuat satu lubang untuk bakar batu. Kami mengobrol sejenak. Bertanya-tanya bagaimana prosesinya dan sudah sampai di mana. Cukup menyenangkan.

Malam harinya, pak Bupati mengundang kami untuk datang ke kediaman beliau. Kami mengobrol dan saya mendapat kesan bahwa acara hari itu berjalan dengan sangat lancar. Beliau bercerita bagaimana pak Gubernur sangat terkesan karena di umur yang baru tiga tahun, kabupaten pemekaran yang bahkan belum mempunyai Bupati definitif sudah memiliki akses telekomunikasi. Saya sangat bersyukur karena walaupun instalasi mendapat banyak hambatan dan berjalan lambat, tetapi bisa on air tepat waktu. Tepat dengan acara besar yang diemban bapak David. Saya bisa melihat betapa leganya pak David, jauh lebih santai ketimbang tanggal 25 malam, di mana beliau sangat stress dan gampang marah. Kami mengobrol tentang banyak hal. Termasuk rencana penggunaan solar panel dan baterai sebagai pengganti genset diesel 20kVA yang lumayan boros. Perlu diketahui di Intan Jaya harga solar adalah Rp 40.000 untuk seliternya.

Begitulah pengalaman kami memasang BTS di Intan Jaya. Kabupaten pemekaran yang ada di ketinggian 2100 meter lebih. Yang bahkan akses jalan darat pun belum ada. Sekarang ini, melakukan panggilan telepon selular baik dari maupun ke Intan Jaya sangat mudah dilakukan. Bahkan, sore tadi sebelum saya menulis blog ini, Beno menelfon saya, mengabarkan keadaan di sana. Kami bercerita panjang lebar dengan kualitas suara yang bahkan mungkin lebih bagus daripada sinyal di perkotaan.

Obrolan via jaringan telefon selular antara saya dan Beno yang terpisah lebih dari 3000 km menjadi bukti bahwa kemerdekaan telekomunikasi tidak hanya milik orang-orang di perkotaan atau di Jawa sana. Kemerdekaan telekomunikasi harus bisa dirasakan secara merata oleh seluruh warga negara republik ini. Hanya tergantung dari niat baik dan kemauan yang kuat dari pemerintah, operator selular, dan semua pihak yang terkait dalam pelayanan jasa telekomunikasi. Bahwa telekomunikasi adalah bukan semata-mata komersial mencari untung belaka. Tetapi, lebih dari itu, telekomunikasi adalah sebuah pelayanan. Dan pelayanan adalah hak setiap warga negara Indonesia.

Thanks to this local humble people that helped us much during installation… Bapak Didimus, Bapak Luther, Bapak Jhon Wetadi, Beno, Bapak Paulus.
Without you I would not finish this job 🙂
Amakaneeeeee!!!!

Local humble

Local humble

Penulis dan Beno saat instalasi

Advertisements

8 comments

  1. vincence_li · June 14, 2012

    I LOVE THE STORIES! Hidupkan pinggiran!!

  2. Pingback: “Kemerdekaan Telekomunikasi” « playground
  3. amanuaeee · August 28, 2012

    merdeka !!!!!! video yg naikin bendera sambil nyanyi indonesia raya koq nga ada ya cerita nya 😛

    minal aidin dolo dah…eheheh gpp telat masih suasana lebaran kan yak…apa 17 an awkakw

    • Taufiq Ibrahim · August 28, 2012

      hahaha….susah uploadnya lagian belom diedit euy…ga bisa aing ngeditnya. Sama2 cuy, mohon maap lahir batin yak.

  4. Angela · September 5, 2012

    Mantab… Nice job guys.. Salam buat wellem hehe. . Oldfriend

  5. Christian · September 10, 2012

    You The Best…GBU..

  6. hasmuga · August 31, 2016

    Merinding euy, mengingat masa2 itu..
    Dan kini itu semua menjadi sebuah cerita, sebuah kenangan yang tak kan dapat terulang.
    Kisah yang hampir mirip juga kita dapatkan sewaktu mengerjakan Purwodadi, KAB. Malang.
    Di Jawa masih saja ada daerah terpencil yang belum dpt akses sinyal.
    Luar biasa… Lanjutkan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s