[null]

Sudah hampir 3 minggu sejak saya memutuskan mengubah status saya menjadi seorang beban negara, pengangguran. Merunut sedikit ke belakang, sejak hari-hari terakhir berada di Makassar, saya mengalami banyak hal. Mulai dari yang biasa saja, sangat menyenangkan, dan tentu saja yang tidak enak di hati. Mundur lagi ke beberapa bulan sebelum saya berada di Makassar, saya sempat dihadapkan pada 2 buah pilihan, ini soal pekerjaan. Pilihan pertama sebenarnya cukup menjanjikan, sebuah kontraktor Cina menawarkan pekerjaan di level yang saya inginkan dengan iming-iming pertanyaan “How much do you want?”. Sebuah penawaran yang menurut logika sebenarnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Pilihan kedua, saya harus mengerjakan sesuatu yang saya harus turun level, namun dengan iming-iming “Kamu akan ditempatkan di Timika”. Saya sangat ingin pergi ke sana. Otak logika saya kalah telak oleh nafsu melihat bumi Irian, bahkan ada suara, “I don’t care bout the salary, Timika is a dream for me”.

Tak lama setelah mengabaikan pilihan pertama, sampailah saya di Makassar. Yang terjadi sungguh di luar prediksi, saya batal ke Timika, yang ada saya harus mengerjakan projek di Makassar. Selama beberapa bulan saya berusaha menyelesaikan pekerjaan itu. Selain sudah merasa kecewa atas penempatan, saya juga merasa tidak nyaman dengan dukungan perusahaan tempat saya bekerja yang mau tidak mau harus saya maklumi akibat sulitnya aliran dana dari maincon brengsek asal negerinya inspektur Vijay. Saya lelah karena selain harus menyelesaikan pekerjaan yang ada di jobdesc tetapi masih saja harus melakukan kerja fisik memanjati tiang-tiang penyebar gelombang elektromagnet berfrekuensi sekitaran 2100MHz itu. Cuma mau bagaimana lagi, yang ada di otak saya hanyalah secepatnya keluar dari kota itu.

Apakah cuma penyesalan yang saya dapat? Saya sempat berpikir itu, sampai beberapa hari sebelum saya kembali ke Jakarta. Pikiran saya mendadak berubah. Penyesalan itu terganti dengan sebuah senyum lebar. Saya bisa bertemu dengan seorang yang jenisnya terus terang baru pertama kali saya temukan. Pertemuan itu sangat menyenangkan. Saya merasa waktu bagai berhenti ketika duduk mengobrol bersamanya. Mengalir saja, rasanya seperti teman lama yang bertemu kembali, padahal saya baru kenal hitungan hari. Hari-hari terakhir itu begitu berkesan buat saya. Kesan yang mengubah rasa sesal menjadi syukur. Karena mungkin tidak akan pernah saya dapatkan seandainya saya tidak memilih opsi kedua.

Tiga minggu yang lalu, saya menginjakkan kaki di ibukota. Saya merasa jengah, saya harus menyegarkan pikiran saya. Saya putuskan untuk melakukan perjalanan menyusuri daratan Jawa, melewati Temanggung, Jogjakarta, Surabaya, sampai akhirnya saya menyebrang ke rumah orang tua saya, Bali.

Sejak seminggu yang lalu saya sudah berada lagi di ibukota. Perjalanan yang hampir 2 minggu saya lakukan itu ternyata tidak sepenuhnya membuat hidup tenang. Masih ada satu hal lagi yang mengganjal, ya, saya belum punya pekerjaan. Entah mengapa, saya merasa cukup sulit untuk mendapat pekerjaan baru. Sulit karena pengalaman minimalis yang saya punya. Entah mengapa sepertinya rata-rata perusahaan yang menerima CV saya seperti tidak mau membaca atau memasukkan pengalaman 1.5 tahun bekerja dengan scope of work yang sama dengan persyaratan mereka. Alasan yang saya terima hampir selalu sama “Masalahnya Anda belum pernah megang ini…”. Saya mengerti, asumsinya adalah jika saya belum pernah memegang berarti saya goblok. Lalu bagaimana caranya saya menjadi sedikit lebih pintar jika semua orang mengatakan hal yang sama? Apa karena saya goblok maka saya tidak berhak atas suatu kesempatan? Pertanyaan2 itu sering muncul beberapa hari terakhir ini.

Saya berpikir lagi, dan menyadari, itulah realita. Perusahaan2 itu hanya menjalani sebuah cara yang mereka yakini sebagai metode perekrutan terbaik. Untuk apa mereka hire orang yang harus belajar dulu tanpa ada jaminan pasti perform bagus, rugi donk. Apalagi di zaman serba cepat dan persaingan harga begitu sadis seperti sekarang ini. Saya akhirnya bisa maklum. Satu-satunya cara adalah dengan tetap berusaha dan berharap ada kesempatan berikutnya. Sepertinya memang bullshit kalau orang bilang kesempatan ada di mana-mana. Tapi saya meyakini satu hal. Kesempatan itu ada, walau dengan jumlah terbatas, tapi itu ada. Tinggal mau atau engga kita menjemput kesempatan itu.

Hidup harus dijalani dengan usaha tingkat maksimal. Harapan harus selalu dikejar, namun jangan lupa juga untuk menikmati dan mensyukuri apapun yang sementara ini ada di depan mata. Pekerjaan adalah target saya saat ini, yang harus segera didapat, karena banyak hal sudah menanti di belakang.

Advertisements

2 comments

  1. Chandra yang keren abis... · April 23, 2011

    Hehehehe… Intinya ada pada kesempatan yang lagi-lagi (menurut kita) terbatas coy..
    Kita berbagi kegalauan yang sama, since I have a big dream, at least for my part..
    Tapi kemaren, gue dikasih pelajaran telak sama Allah SWT. Gue jadi mikir (dengan otak gue yang masih bagus ini.. :P). Allah seakan bilang ke gue, “Be thankful to what you have in the past, now, and later..”
    Mungkin belom waktunya aja Nge kita pegang vendor biru, atao mungkin bukan bidang gue disitu.
    Allah mungkin punya rencana yang lebih baik, eh salah denk, PASTI punya rencana yang lebih baik buat kita. Yang kita harus lakukan hanya tangan yang berusaha lebih banyak, dan mulut yang berdoa lebih sering…

    • Taufiq Ibrahim · April 24, 2011

      mantap!!! memang harus begitu brother…setuju banget sama pandangan lo 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s