Beda Pandangan? Tidak Masalah

Sebuah sore yang cerah, seorang wanita rekan kantor tiba-tiba nyeletuk, terheran-heran melihat sebuah foto di layar browsernya. Foto beberapa wanita Afrika yang bertelanjang dada. Rekan kantor saya ini bertanya-tanya, apa mereka tidak malu ya berbusana seperti itu, memperlihatkan payudaranya kepada semua orang. Saya jawab saja bahwa itu di sana mungkin itu normal, menjadi tidak normal karena mungkin teman saya ini menilainya berdasarkan nilai yang dia punya berdasarkan kebenaran umum di sini (baca: Makasar).

Malam harinya, saya stream acara Sentilan-Sentilun di website MetroTV, acara ini mengundang mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono. Satu hal disampaikan Hendropriyono yang mengingatkan saya sama celetukan rekan kerja saya sore hari kemarin. Dia menyampaikan satu hal berkaitan dengan maraknya insiden kekerasan atas nama SARA yg marak terjadi belakangan ini. Ketika suatu pihak merasa superior daripada pihak lainnya, dan pihak yang superior ini merasa sangat benar akan ada potensi kekerasan. Matematika mengatakan 2 dikali 2 adalah sama dengan 4, tapi apakah kita perlu untuk memukuli atau membunuh orang yang tidak setuju dengan 2 dikali 2 sama dengan 4?

Lalu apa hubungannya dua contoh yang saya tulis di atas dengan tulisan ini? Hehehehehe, saya cuma ingin menyoroti beberapa kecenderungan di masyarakat kita ini, yang tentu saja pendapat pribadi, karena saya cuma kuli di bidang engineering. Tentang kebenaran kemudian cara memandangnya serta gimana cara memperlakukannya. Kalo dilihat-lihat, sepertinya semampu otak saya mencerna, kebenaran itu ada 2 macam. Pertama, adalah kebenaran umum yang bersifat lokal, contohnya ya cara berpakaian tadi. Di beberapa daerah di Afrika, atau mungkin di Papua sana, dan bahkan di Bali sampai awal tahun 1900an, wanita memang tidak menutupi dadanya. Di daerah tersebut hal itu adalah normal, tapi kalo kita menilainya berdasarkan nilai kebenaran umum budaya lokal yang kita punya, hal itu adalah salah, apalagi kalo pake agama, dimana mengumbar aurat itu dilarang.

Sering kali saya lihat dalam pergaulan saya, banyak orang sadar atau tidak sadar memandang sesuatu berdasarkan kebenaran umum yang ia yakini. Kemudian jika sesuatu yang ia nilai itu tidak sesuai dengan kebenaran yang ia yakini, secara sadar atau ngga sadar orang ini menyalahkan, mencoba memaksa, bahkan kemudian membenci. Aneh ya? Beberapa kali saya nyoba berdiskusi mengenai suatu masalah yang melibatkan banyak pandangan subyektif, kebanyakan selalu berujung dengan perdebatan penuh kebencian (halah) akibat beda pandangan. Hanya satu dua orang yang bisa mengatakan “Oooh…menurut kamu A yah, kalo menurut aku sih G, tp ngga papa, masing2 punya pendapat“. Meyakini suatu kebenaran memang sepertinya mengarahkan pada perbedaan, tapi bukan berarti perbedaan itu harus dipertengkarkan, ya ngga?

Saya kadang melihat, semakin ke sini, semakin banyak perselisihan gara2 perbedaan keyakinan atas kebenaran itu. Orang-orang kayaknya udah lupa sama pelajaran PMP macem toleransi ato tenggang rasa. Pokoknya yang sama nilai kebenarannya adalah kawan, yang berbeda adalah musuh mutlak yang wajib untuk dibasmi. Semakin hari orang-orang ini makin miskin duit, makin miskin sandang, makin miskin hati, tapi yang lebih kacau, mereka juga makin miskin hati. Perasaan terabaikan dari hak seorang warga negara yg tidak diperhatikan kayanya menjadi dendam, sangat ingin abai terhadap orang lain sesamanya. Jadinya ya begitu, ego makin kuat, gue yang bener, elo yang salah. Lo ngga mau ikut cara gue, sini gue bacok.

Ya, saya cuman mengajak saja, mari kita menerima perbedaan pandangan itu sebagai sesuatu yang memperkaya. Jangan dijadikan bahan pertengkaran. Mulailah dengan menjadi pribadi yang bisa mendengarkan, bukan menyalahkan. Mendengarkan bukan berarti kalah. Hanya menerima pandangan lawan bicara atas sesuatu. Tentu saja orang berhak untuk menolak pandangan orang lain. Tidak perlu memaksakan diri untuk menerimanya, tapi juga jangan menyalahkan. Saya yakin koq, hidup bakalan lebih tenang, obrolan bakalan lebih mengalir dan membangun kalo kita bisa seperti itu.

Peace!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s