Renungan seorang yang tiada guna…

blog…wordpress…apalah namanya ini…
udah lama rasanya ngga nulis di sini. Sejak awal ngebikin ini blog, tulisan yang gw bikin belum pernah ngelewatin jumlah jari tangan gw sendiri…apa lagi jari kaki.

hmmm…..sudah hampir 4 bulan lamanya gw berada di negeri sebelah Indonesia ini. Selama itu pula banyak hal baru yang gw pelajarin…bahkan beberapa termasuk hal-hal baru yang belum pernah terlintas sebelumnya di pikiran seorang yang katanya sebentar lagi harus meninggalkan bangku kuliah untuk menjadi seseorang yang bisa berguna bagi bangsanya.

Hmmm….kayaknya udah ketemu nih, yang pengen gw tulis sekarang ini. Seperti biasa, gw bukan orang yang terbiasa dengan planning yang baik. Lo liat aja sendiri ketikan2 gw yang jarang (kalo ngga bisa disebut ngga pernah) terstruktur. Oke deh, it’s decided then, gw pengen nulis tentang diri gw sendiri aja. Sekali-kali mungkin ngga ada salahnya untuk berkaca. Melihat diri kita sendiri…trus dibandingin sama apa yang telah kita capai, apa yang belum, apa yang sudah kita kasi buat orang2 disekitar kita dll…

Ngga terasa, udah 4 tahun lebih gw belajar di bangku kuliah sebagai orang berstatus mahasiswa, yang konon katanya, adalah Agent of Change yang nantinya bakalan membawa perubahan buat bangsa ini, entah perubahan seperti apa yang dimaksud. Ataukah ini cuman bahasa propaganda saja, gw ngga tau. Oke, selama 4 tahun itu juga gw belajar banyak hal, mulai dari pelajaran-pelajaran di bangku (padahal kursi lipet) kuliah yang majority berbau telekomunikasi, hal-hal berbau keorganisasian yang gw jumpain di organisasi mahasiswa, UKM, kepanitiaan..ato apalah namanya itu, termasuk hal-hal sepele yang gw pelajarin dari pergaulan sehari-hari dengan sesama pelajar, dosen, tukang sapu, satpam atau apalah mereka itu.

Waktu pertama kali masuk pendidikan telekomunikasi ini, ngga ada pikiran apa-apa, selaen cuman pengen bisa cepet kerja aja. Dengan kata lain, mindset gw waktu itu adalah ‘kerja’. Cuman seiring berjalannya waktu dan berbagai hal yang gw alamin…entah kenapa hal itu sepertinya berubah sedikit demi sedikit, bit by bit, word by words….Target lulus 3.5 tahun yang awalnya gw ‘canangkan’ lambat laun bergeser menjadi lulus ‘normal’ 4 tahun related ke banyak hal yang terjadi. Sebuah tugas berat menjadi seorang yang katanya ‘pemimpin’ di suatu organisasi, tugas akhir yang akhirnya jadi molor akibat entah gw yang ‘bego’ atau emang menunda-nunda saja, sampe akhirnya ada kesempatan untuk merasakan pendidikan di negeri orang (tetangga ini). Entah, apakah boleh secara etika menyebut hal-hal tadi sebagai alasan untuk ‘molor’. Cuman yang pasti gw jalanin aja. Mungkin ini emang path yang udah disiapin sama Tuhan buat gue.

Selama di ‘perantauan’ ini terus terang gw banyak berpikir. Tentang diri gue, masa depan gue. Sehabis masa exchange ini selesai gw tentu saja harus segera nyari kerjaan, nyari duit, segera berkeluarga dan rencana-rencana lain seperti yang dipikirkan kebanyakan orang lain. Tapi…gw berpikir lagi, apa cukup hanya seperti itu saja. Cukup mencari kerja, nyari duit untuk memenuhi kebutuhan sendiri, kawin, berkeluarga trus live happily ever after kayak dongeng-dongeng anak-anak sebelum tidur?? Apa cukup sampai situ saja? Apa Tuhan menciptakan gue, elo, kita semua cuma untuk tujuan seperti itu?? Koq selfish yah?

Di akhir-akhir masa ‘perantauan’ ini, ada beberapa hal yang sepertinya ‘mengusik’ hati gue. Gw selalu meluangkan waktu buat baca artikel dari Yockie Suryoprayogo. Artikel-artikel yang banyak menyinggung masalah bangsa kita saat ini. Tiap malem, sampai ngga tidur, gw sepertinya kecanduan sama blog yang satu ini. Sepertinya mata gw baru aja kebuka. Baru aja bisa ngeliat kalo ternyata permasalahan bangsa ini begitu complicated. Seperti benang ruwet yang ruwet banget sampe mungkin udah ngga mungkin diurai lagi. Rasanya semakin membaca, yang ada semakin nyesek aja hati ini, tahu permasalahan negara yang sebegitu rumitnya.

Gw bingung banget. Terus terang bingung. Apa yang sebetulnya salah sama negara ini? Negara yang kita sebut Indonesia ini. Mulai dari politikusnya yang super busuk. Orang-orang yang mayoritas cuman mentingin diri sendiri dan partainya, untuk mencapai tujuan yang juga tujuan pribadi dan partainya. Di mana sih mereka meletakkan tujuan rakyatnya. Yang udah mempercayai mereka, untuk kehidupan yang lebih baik. Lalu apa yang mereka beri pada rakyat ini??? Ngga ada!!! Cuman penderitaan yang semakin hari semakin mendera.

Budaya, etika, dan moral sepertinya juga udah lama dilupain sama kita, termasuk generasi muda yang di atas gw sebut sebagai Agent of Change ini. Mereka udah dibutain sama yang namanya globalisasi, modernisasi, westernisasi, atau apalah namanya sebut aja semuanya! Mana globalisasi?? Mana modernisasi??? Yang ada cuman ngimpor secara besar-besaran ‘budaya barat’, kopi plek!!
Sedih rasanya ngeliat anak-anak muda (termasuk gw sendiri), dengan dogma modernisasi. Apa yang kita lakukan??? Cuman beli gadget model baru, aksesoris model baru, tas dengan model terkini, ponsel mahal dengan fungsi bejibun, yang fiturnya aja jarang (kalo ngga bisa gw bilang ngga pernah) dipake. Dandanan berkiblat barat, semua-muanya kudu ikutan ‘sono’ kalo engga “Aaaah…..kuno lo!!!” atau “Aaaahh,,,,kemana aja sih lo? Barang jadul kaya gitu masih aja dipake??”
Sedangkal itukah pemikiran yang katanya modern??? Cuman di luarnya aja niru bangsa yang katanya maju, padahal di kepalanya…purba!!! Yang ada kita cuman jadi korban penjajahan baru oleh neo imperialisme berkedok industri modern.

Media dikuasain oleh mereka untuk tiap hari bisa nyekokin kita sama mimpi-mimpi palsu. Gambar iklan jadi impian, gitu kata Iwan Fals waktu di Kantata Takwa. Sinetron cuman ngejual mimpi, jauh banget dari kenyataan. Musik yang katanya seni yang harusnya bisa menjadi alat budaya sebagai ekspresi keadaan sosial masyarakat, sekarang ngga lebih cuman ajang ‘pelacuran’ pedagang musik yang ngaku-ngaku musisi. Musik cetek dengan lirik-lirik ngga jauh dari tema cinta, selingkuh, menye-menye…. Inikah cerminan dari seni bangsa kita??? Duuuuhh Gusti…..mana musik yang harusnya nyeritain kondisi sosial masyarakat? Mana seni yang harusnya jadi ekspresi budaya bangsa?? Semua cuman ngejual mimpi, ngga bikin cerdas masyarakat. Cuman demi satu tujuan: Keuntungan ekonomi…

Trus di mana saya, kamu, kita…yang katanya agent of change ini??? Apa kita cuman mau berdiam diri aja, ngeliat kondisi bangsa yang kaya gini? Apa kita bisa enak-enak berinternet sementara sekian banyak orang lain buat sekolah aja ngga ada biaya. Apa kita tetep bisa pergi minum kopi di kafe, sama rekan-rekan kerja ngabisin waktu (dan duit) sementara sekian banyak orang, makan ntar siang aja masih mikir…
Masih layak ngga sih?? Kita ngaku2 generasi penerus…..apa ngga diganti aja jadi generasi perusak, yang makin lama semakin membusuk dengan impian-impian palsu yang selalu disuarakan sama “pelacur-pelacur ekonomi” itu??

Kayanya engga deh…udah cukup sampe di sini aja. Semakin direnungin rasanya semakin sedih aja. Trus apa yang kudu dilakuin?? Mungkin bisa kita mulai dari diri kita sendiri aja. Gw jg ngga begitu tau. Tapi udah saatnya perbaiki mindset kita, kembali ke budaya kita sendiri. Kembali lagi ke etika dan moral seperti yang diajarkan leluhur-leluhur kita. Mulai berkarya sesuai bidangnya masing-masing aja. Sama-sama kita membangun negeri ini.

Haduuuh…jadi ngelantur binti sok tau gini yah…. Ya…mumpung di blog sendiri, boleh lah ngawur-ngawur dikit. Itung-itung mencurahkan isi hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s